Skip to content
  • bodhidharma
  • bodhidharma
  • bodhidharma
  • bodhidharma
  • bodhidharma
  • bodhidharma
  • bodhidharma
  • bodhidharma
  • bodhidharma
  • bodhidharma
  • bodhidharma
  • bodhidharma
You are here: Home Tokoh Naropa: disucikan Oleh Penderitaan(1016-1100)
Naropa: disucikan Oleh Penderitaan(1016-1100)

Dalam silsilah agama Buddha Mazhab Tantrayana atau Vajrayana, Naropa adalah salah seorang Guru Besar.  Sedangkan dalam silsilah guru-guru sekte Kargyupa dari Tantrayana, Naropa menempati urutan kedua setelah gurunya, Tilopa. Kemudian, setelah Naropa(1016-1100), munculah Marpa (1012-1097), Milarepa (1040-1123), Gampopa(1052-1135), dan Karmapa(1110-????).

Dikisahkan bahwa Naropa terlahir sebagai seorang Pangeran di India. Namun, ada kisah lain yang menyebutkan bahwa beliau berasal dari keluarga penjual anggur di India. Dalam kisah sebagai seorang  pangeran, diceritakan bahwa sejak bayi Naropa telah memiliki keistimewaan seperti membuat banyak orang menjadi senang dan bahagia hanya karena menatap-Nya. Para anggota kerajaan pun beranggapan bahwa beliau itu ibarat sebuah permata yang tidak pantas untuk tinggalkan di tengah-tengah orang di dunia. Untuk itu, beliau ditempatkan untuk tinggal di Vihara dimana terdapat banyak orang yang meremehkan Dharma.

Di Vihara beliau menggali ilmu dan menjadi orang yang terpelajar, serta mampu melampaui guru-guru-Nya. Sehingga terkenal ke seluruh dunia. Sebagai mahasiswa di Nalanda, beliau adalah salah satu murid yang cedas dan tercatat sebagai pelajar yang turut serta menjaga salah satu pintu gebang Nalanda di sebelah utara. Seperti diketahui masing-masing dari ke empat pintu gerbang Nalanda di jaga oleh 500 orang terpelajar dunia yang dikenal dengan julukan “penjaga pintu gerbang Nalanda”.

Wanita Tua

Suatu hari, ketika beliau sedang membaca sebuah Sutra,  tiba-tiba muncul seorang wanita tua yang sangat jelek. Wanita itu bermuka kerut dan tak bergigi. Dia bertanya,”Apa yang sedang kau baca? ”Naropa menjawab, ”Saya sedang mempelajari ajaran Sang Buddha”, Wanita tersebut kembali bertanya”, Apa yang sedang kau baca?” Naropo menjawab, ”Saya sedang mempelajari ajaran Sang Buddha”, Wanita itu kembali bertanya, ”Apa kau memahaminya? ”Naropa menjawab, ”Saya memahami setiap kata tersebut.”
Mendengar jawaban ini, wanita tersebut gembira dan bahagia. Lalu, wanita tua itu bertanya lagi, ”Apa kamu memahami makna dan intinya? ”Naropa menjawab, ”Ya”. Tiba-tiba wanita itu menjadi sedih dan menangis. Dia berkata, ”Coba pikir, seorang terpelajar seperi kau bisa berbohong!” Naropa malu dan berbalik bertanya, ”Apakah ada orang yang benar-benar memahaminya maknanya?” wanita tua itu menjawab, ”Ya saudara saya ”Tilopa” dapat memahaminya.”

Mendengar nama Tilopa disebut, tiba-tiba saja rasa kesetiaan muncul di dalam pikiran dan hati Naropa sehingga air matanya menetes. Naropa kemudian menanyakan dimana dia bisa bertemu dengan Tilopa. Wanita tua itu menjawab, bahwaTilopa itu ada dimana saja, dan apabila pikiranmu penuh dengan kesetiaan dan keyakinan, serta bertekad kuat maka akan mmengetahui arah yang tepat dimana Tilopa berada. Setelah memberikan jawaban serti itu, wanita yang sebenarnya adalah Vajrayogini (petapa wanita) itu menghilang. Semenjak kejadian itu, Naropa memohon untuk dapat meninggalkan Nalanda. Yang kemudian dengan berat hati kepergiaanya direlakan oleh guru dan teman-temannya.

Berguru pada Tilopa

Dalam usaha pencarian Tilopa, Naropa mengalami kelaparan dan kehausan yang luar biasa. Begitu pula dengan terpaan alam yang dahsyat pun dialaminya. Tetapi, semua cobaan dan rintangan itu tak menyurutkan niatnya. Apa yang beliau alami tersebut kemudian dikenal sebagai,”Dua belas pengalaman menakutkan yang dialami Naropa”, Diantaranya anjing galak, binatang liar, ular berbisa, wanita mengerikan dan lain-lain.

Setiap kali menghadapi pengalaman tersebut, Naropa mendengar suara menggelegar dari langit yang menyatakan bahwa hal tersebut merupakan manifestasi dari gurunya. Akhirnya suara dari langit memberitahu bahwa yang dicari itu sudah dekat .Sesampainya di suatu desa, secara tiba-tiba beliau mengetahui bahwa Tilopa adalah seorang nelayan.

Ketika bertemu dengan Tilopa, Naropa melihatnya sedang memindahkan kesadaran dari setiap ekor ikan ke suatu alam suci hanya dengan memetikkan jari-jari tangannya sebelum dipersiapkan untuk dijual. Naropa segera menghormat dan meminta untuk dijadikan murid, tetapi Tilopa hanya berkata seorang bangsawan seperti Naropa tidak pantas berguru kepada seorang nelayan seperti dirinya. Lalu, Tilopa pun pergi. Namun, Naropa berusaha mengejarnya. Tilopa hanya berjalan tapi Naropa tatap saja tidak mampu mengejarnya walaupun sambil berlari.

Derita Membawa Pencerahan

Ketika Tilopa sedang duduk di sebuah tebing, Tilopa meminta Naropa agar terjun meloncat sebagai syarat untuk dapat diterimasebagai muridnya. Kemudian Naropa melakukannya, terjun dari tebing yang curam sehingga tulang-tulang dan sendinya patah. Tilopa menyembuhkannya dengan sentuhan lembutnya. Sentelah sembuh, Tilopa menamparnya dengan menggunakan sendalnya hingga pingsan. Dan kemudian Naropa mencapai pencerahan setingkat gurunya.

Setelah tenang, Tilopa menjelaskan kenapa beliau berlaku kejam. Hal ini dilakukan karena sifat-sifat negatif Naropa tidak bisa disucikan dengan usahanya sendiri. Hanya dengan benar-benar mengalami penderitaan, Naropa dapat tersucikan. Lapisan karat yang terlalu kasar tidak akan dapat dihilangkan bila mengunakan kain dan tangan yang halus, tapi harus dengan bahan yang sangat keras atau bahkan lebih keras. Demikian pula dengan menghadapi karma buruk Naropa, kekerasan dan ketegasan guru sangat diperlukan.

Setelah mencapai pencerahan, Tilopa menjamin bahwa mereka berdua tidaklah terpisah dimasa lalu, sekarang, dan masa yang akan dating.  Mereka ibarat matahari dan bulan. Selanjutnya Naropa dan Tilopa, kedua murid dan guru tersebut aktif memutar roda Dharma ke seluruh dunia.
Dalam aliran Tantrayana sangat besar peran guru dalam proses pencerahan muridnya. Bahkan inisiasi sorang Tantrika tak mungkin lepas dari hubungan dan kedekatanya dengan sang guru. Begitulah yang terjadi pada Naropa terhadap muridnya Marpa, marpa kepada Milarepa dan seterusnya.(sutaryono/jo)

 

Siapa yang Online

We have 1 guest online

Dharma Hari Ini

  1. It is better to have the will to resolve than indulging in day dreaming of wealth; it is better to have peace of mind than believing in fate; it is better to get clear insight of our mind than the use of punishments; it is better to purify one’s mind than giving ineffective aid. (Ven. Master Hsing Yun)
SocialTwist Tell-a-Friend