|
Di lapangan politik asia banyak pimpinan wanita. Sebelum naiknya Megawati menjadi presiden dapat kita temui pemimpin wanita atau wanita-wanita yang tak kenal putus asa dalam berjuang. Sebut saja, di India ada Indira Gandhi, Srilanka memiliki Sirimavo Bandaranaike, dan putrinya sekarang Chandrika Kamaratungga, dan di Pakistan memiliki Benazir Bhutto. Di Filipina muncul Cory Aquino dan Aroyo, di Myanmar ada Aung San Suu Kyi, di Jepang ada Maikiko Tanaka, dan akhirnya 21 Juli 2001 lalu di Indonesia muncul Megawati Soekarno Putri. Mereka mencapai puncak kekuasaan di negaranya, dan perjuangannya itu bukanlah tanpa melalui perjuangan dalam mendobrak ketidaksetaraan yang diciptakan kaum lelaki.
Munculnya pesona kekuatan wanita dalam mendobrak ketidaksetaraan antara lelaki dan perempuan juga terjadi dalam lapangan spiritual. Di dalam sejarah tidak bisa dilupakan jasa besar Maha Prajapati. Prajapati merupakan pelopor berdirinya sangha wanita, dan seorang wanita yang menempatkan dirinya menjadi pemimpin wanita pertama dalam sejarah agama yang memperjuangkan kesetaraan dan keadilan kaumnya untuk dapat menempuh cita cita kesucian. Prajapati berhasil membuka sangha bagi wanita, dan keberhasilanya bukanlah tanpa perjuangan begitu saja.
Pelopor Sangha Bhiksuni
Prajapati, lengkapnya Maha Prajapati Gotami adalah ibu asuh Pangeran Siddharta pengganti Dewi Maha Maya, ibu kandung Pangeran Siddharta yang meninggal ketika Pangeran Siddharta berusia tujuh hari. Prajapati juga menggantikan posisi Dewi Maha Maya sebagai Istri Raja Suddhodana. Prajapati memiliki putra seorang Nanda, dan seorang putri bernama Rupananda. Nanda, saudara tiri Siddharta yang dipersiapkan oleh ayahnya Raja Suddhodana mengantikan Pangeran Siddharta menjadi raja, akhirnya menjadi biksu dan sukses mencapai tingkat kesucian. Ketika suaminya, Raja Suddhodana wafat setelah selama tujuh hari menikmati pencapaian arahat, istri yang bijaksana ini mengambil keputusan untuk menjadi anggota sangha, namun ketika itu sangha wanita belum ada. Prajapati menanti saat yang tepat untuk menyampaikan permohonannya menjadi bhiksuni kepada Sang Buddha. Baru setelah Sang Buddha menyelesaikan tugasnya mendamaikan perselisihan antara Negara Sakya dan Negara Koliya perihal air Sungai Rohini, Prajapati yang bijaksana ini menyampaikan keingginan tersebut. Prajapati menemui Sang Buddha di Nigrodharma, namun permohonan menjadi menjadi bhiksuni ini tidak langsung diterima oleh Sang Buddha, sampai tiga kali ditolak dan kemudian Sang Buddha pun meninggalkan Kapilavatthu pergi ke Vesali.
Kemudian Prajapati yang tak mengenal menyerah itu bersama lima ratus orang wanita lainnya menyusul Sang Buddha, dengan berpakain sebagaimana seorang bhiksu berwarna kuning dan memotong rambutnya, dengan kaki yang luka dan bengkak akibat berjalan kaki, beliau mengajukan kembali kepada Sang Buddha yang dibantu Ananda, siswa yang banyak menemani para wanita itu yang sedang menangis di depan pintu memohon untuk dapat diterima sebagai anggota sangha. Ananda kemudian meneruskan permohonan mereka kepada Sang Buddha. Kembali Sang Buddha menolak sampai tiga kali. Akhirnya setelah Ananda mengubah cara mengemukakan pertanyaannya dan setelah mendapat jawabannya dari Sang Buddha bahwa wanita juga dapat menjalani dengan tekun ajaran dan tata tertib serta memungkinkan juga dapat mencapai tinggkat tinggkat kesucian, sangha pun terbuka untuk para wanita.
Prosesi Prajapati bersama lima ratus wanita yang bertekad keras berjuang bagi kesetaraan wanita menempuh kesucian ini, merupakan suatu peristiwa yang menyentak hati orang banyak, demikian juga Sang Buddha. Inilah peristiwa demonstrasi wanita dalam sejarah , khususnya dalam lapangan spiritual yang memperjuangkan kesetaraan antara wanita pria atas hak yang sama dalam menempuh hak yang sama dalam menempuh cita-cita kesucian, karena cita-cita kesucisan itu bukan hanya milik makhluk yang berjenis lelaki.
Akhirnya setelah menjalani perjuangan sangat panjang, Maha Prajapati di tahbiskan menjadi bhiksuni bersama dengan pengikutnya yang berjumlah lima ratus orang. Dengan demikian berdirilah sangha bhiksuni pertama yang dipimpin oleh Maha Prajapati Gotami. Sangha Bhiksuni inipun akhirnya berkembang sampai di desa-desa, di kota-kota, bahkan di istana raja- raja, seperti Putri Yasodhara dan Purtri Pupananda (anak Prajapati ) turut memasuki Sangha Bhiksuni.
Setelah mendengarkan Nandakovadasutta, para pengikut Prajapati yang telah ditahbiskan menjadi bhiksuni akhirnya mencapai tingkat kesucian arahat. Sang Buddha dalam suatu kesempatan dihadapan Bhiksu Sangha dan Bhksuni Sangha menyatakan bahwa Maha Prajapati pemimpin dari para bhiksuni terkemuka. Maha Prajapati pemimpin pertama sangha wanita, wanita perkasa yang tak kenal lelah dalam berjuang akhirnya mencapai kesucian arahat dan beliau meninggal pada usia seratus dua puluh tahun.
Pesona Kekuatan Wanita Buddhis Wanita yang kerap disebut mahkluk yang lebih lemah dari pria ternyata tidak benar. Dalam menempuh kesucian pun, wanita memiliki kemampuan yang setara dengan pria. Hal itu terbukti dengan dinyatakan Sang Buddha bahwa wanita dapat mencapai kesucain sepenuhnya dan oleh karenanya Sangha Bhiksuni terbuka untuk para kaum wanita. Berdirinya Sangha Bhiksuni itu tidak bisa dilepaskan dari perjuangan Prajapati yang mempelopri perjuangan bagi kesetaraan dan keadilan perempuan untuk dapat hidup menempuh cita-cita kesucian sebagaimana telah dinikmati oleh kaum lelaki.
Bila ternyata dalam Sangha Bhiksuni, Sang Buddha menetapkan beberapa peraturan tambahan, bukan berarti kedudukan wanita pejalan kesucian itu harus dipandang rendah dari pejalan kesucian kaum pria. Bukankah di dalam perjalanan kesucian pandangan yang aku lebih tinggi dan kamu lebih rendah justru akan menghambatnya. Tambahan-tambahan peraturan janganlah dipandang bahwa kedudukan lelaki (Sangha Bhiksu) lebih tinggi dari perempuan (Sangha Bhiksuni), namun peraturan tersebut dikeluarkan justru untuk kepentingan wanita itu sendiri, menyesuaikan keadaan wanita itu sendiri, menyesuaikan keadaan wanita itu dalam rangka pencapaian cita-cita pembebasannya, dan bukan demi kepentingan privelese kaum lelaki. Bukankah bila memiliki pandangan ketidaksetaraan sama saja dengan memiliki kemelakatan, keakuan, kesombongan, seksis yang malah akhirnya tidak sesuai dengan cita-cita kehidupan sangha dan menutup pintu kesucian.
Ternyata dalam sejarah sering terbukti banyaknya wanita-wanita yang mencapai tingkat kesucian dan pembebasan dan mungkin persentasenya jauh lebih tinggi ketimbang kaum lelaki. Begitu pula dengan kekuatan wanita Buddhis di dalam mengembangkan ajaran Sang Buddha dan berkarya di lapangan sosial kemanusiaan atau menerjemahkan ajaran Buddha dalam kehidupan nyata. Diantara mereka yang memiliki kekuatan untuk mencapai tingkat-tingkat kesucian dan pembebasan itu, tersebutlah beberapa nama yang menebarkan kekuatan pesona wanita Buddhis. Selan Prajapati sendiri ada Putri Yasodhara yang mencapai tingkat kesucian dan pembebasan, juga ada Sujata. Ratu Mallika, Khema , Bhadda, Kundakasa, Kisagotami, Sina, Nanda, Ratu Samavati, Patacara, pelacur Ambapali dan lain-lainnya dari latar belakang beberapa kasta dan derajat sosial.
Awal pesona kekuatan wanita Buddhis itu tidak lain diawali oleh Prajapati. Bibi Siddharta ini dengan tekad luar biasa bersama-sama dengan wanita-wanita Buddhis lainnya berjuang untuk terbukanya sangha bagi wanita. Suatu perjuangan yang membutuhkan daya, tekad yang luar biasa, mengingat pada masa itu kehidupan masih dibelenggu jaringan belenggu kasta dan kedudukan perempuan yang lebih rendah dibandingkan dengan lelaki, yang dianggap hanya makhluk kelas dua (the second sex).Dan ternyata perjuangan Prajapati yang mengangkat harkat kaumnya untuk setara dan menikmati keadilan dalam menempuh cita-cita kesucian tidaklah sia-sia. Ketika Sangha Bhiksuni telah berdiri, banyak wanita yang masuk menjadi anggota sangha dan merasa terangkat beban penderitaan dari makhluk yang dianggap kelas dua atau hanya belahan pria saja serta mandapat perlakuan diskriminasi menjadi setara dalam menenpuh cita-cita kesucian.
Selanjutnya dalam perjalanannya, Sangha Bhiksuni itu berkembang mendunia. Di dalam menyebarluaskan ajaran Dharna Sang Buddha, kita kenal Sanghamitta, anak perempuan Raja Asoka yang mendirikan Sangha Bhiksuni di Sri Lanka.Selanjutnya Sangha Bhiksuni juga menyebar di China oleh Theri Trisarana pada tahun 433 M, serta merambah ke Korea maupun ke Vietnam, serta negara-negara di Eropa. Amerika dewasa ini, maupun di Indonesia sendiri. Nyatalah kesucian dan pembebasan juga bisa terjadi pada diri wanita, dan pesona kekuatan wanita Buddhis itu pun akan selalu memberi semangat kepada wanita-wanita Buddhis lainnya di masa sekarang untuk mencapai kesucian dan pembebasan atau juga untuk menyebarluaskan Dharma, sebagaimana yang pada awalnya telah diperjuangkan oleh Prajapati. (Jo) |