Skip to content
  • bodhidharma
  • bodhidharma
  • bodhidharma
  • bodhidharma
  • bodhidharma
  • bodhidharma
  • bodhidharma
  • bodhidharma
  • bodhidharma
  • bodhidharma
  • bodhidharma
  • bodhidharma
You are here: Home Tokoh Supernova Dewi Lestari menemukan Dharma melalui tokoh Bodhi
Supernova Dewi Lestari menemukan Dharma melalui tokoh Bodhi

Novel Supernova, karya Dewi Lestari, khususnya Supernova 2.1 yang diberi judul “akar” bertaburan dengan ajaran-ajaran Buddha. Bahkan setting dan tokoh dalam novel itu sendiri berkaitan dengan Buddhadharma dan lingkungan Buddhis, dimana latar belakang keseluruhan novel itu banyak menyodorkan ajaran Buddha, dan bersetting serta bertokoh utama seorang pemuda bernama Buddhis “Bodhi.”

Melalui karyanya ini Dewi Lestari banyak memberikan pemahaman Buddhdharma melalui kehidupan tokohnya dalam novelnya, suatu pelajaran Buddhadharma yang tampaknya terasa lebih hidup karena beranjak dari perenungan dan penghayatannya yang dalam terhadap Buddhadharma dan peristiwa kehidupan yang tertuang dalam tokoh dan kisah-kisah yang dilukiskannya itu.

Jangan-jangan alumnus Fakultas Sospol, Universitas Katholik Parahyangan, Bandung  yang cantik dan cerdas ini secara tidak langung telah memberi pelajaran Buddhadharma kepada pembacanya mengenai bagaimana proses mengenali diri sendiri, menemukan Dharma, melalui tokoh Bodhi dalam karyanya tersebut, seperti tampak dalam kutipan-kutipan Buddhadharma yang cukup bertebaran dalam karyanya “Supernova”, terlebih Supernova 2.1”Akar”, Trudee Book, I, 2002, serta proses pencaharian diri tokoh Bodhi itu sendiri dalam novel “AKAR”.

 
Sungguh Dewi

Selain kutipan-kutipan bernuansa Buddhis yang banyak bertebaran, novel Supernova 2.1 “Akar” itu juga menampilan setting bernuansa Buddhis, seperti tampak pada tokoh utamanya yang bernama “Bodhi” yang berasal di sebuah Vihara di Malang, Jawa Timur.

Tersebutlah Vihara Vipassana Graha, Lembang Bandung, serta berbagai pelukisan mengenai kesenian Buddhis. Kutipan-kutipan Buddhisnya yang bernuansa Theravada, Mahayana, Tantrayana dan Vajrayana Tibet itu juga  mencerminkan pemahamannya yang luas dan komprehensif mengenai Buddhadharma. Dalam novel Supernovanya yang Pertama, Dewi juga ada menyinggung ajaran Buddha, khususnya mengenai Zen Buddhisme.

Mungkin karena begitu kentalnya nuansa Buddhis dalam Novelnya itulah, Dewi sampai sempat disebut-sebut oleh seorang paranormal sebagai tumimbal lahir dari seorang biarawati Buddhis atau Bhiksuni, ketika diadakan pembicaraan karyanya di Bentara Budaya, Jakarta Barat beberapa tahun yang lalu, padahal waktu itu karyanya Supernova 2.1. “AKAR” yang lebih sarat dengan Buddhadharma belum muncul.

Tampaknya melalui novelnya itu, Dewi memang tidak sekadar mengutip kata-kata Buddhis, yang mencerminkan pemahamannya yang luas dan komprehensif (Theravada, Mahayana, Tantrayana) mengenai berbagai ajaran Buddha namun juga mencoba untuk memahami dan menghayatinya lewat jalan cerita yang dibangunnya melalui tokoh-tokoh dan peristiwa-peristiwa dalam novelnya itu.

Lepas dari terkaan paranormal tersebut, yang jelas dalam kedua novelnya itu, Dewi telah menunjukkan kerja tuntas seorang seniman dalam mengetahui suatu persoalan seperti Buddhadharma yang ditekuninya! Karenanya tidaklah berlebihan kalau kita juga  merasa bangga atas kemunculan Dewi yang juga seorang penyanyi, anggota kelompok RSD ini, bahwa di tengah-tengah keadaan situasi negara yang amat menyedihkan ini, bangsa Indonesia yang sekarat ini masih sempat melahirkan seorang anak muda cerdas yang  amat berbakat cantik pula, sungguh  Dewi!              

Bodhi Jadilah Buddha

Supernova 2 karya Dewi Lestari (Dee) yang diberi judul AKAR, merupakan bagian pertama dari dua episode. Dalam episode Akar ini dikisahkan tentang tokoh yang bernama  Bodhi, sesosok yang datang entah dari mana, dipungut dari halaman depan sebuah Vihara, dan dibesarkan di dalam Vihara.

Tampaknya, episode berikutnya Intelegensi Embun Pagi, akan tetap melanjutkan kisah tokoh yang bernama BODHI, sebuah nama yang akrab terdengar di kalangan Buddhis.

Dan kisah tokoh Bodhi dalam Supernova 2.1. Akar ini yang merupakan kisah perjalanan menemukan diri, sepertinya adalah kisah tokoh Bodhi yang sedang berupaya “menemukan Dharma” sebagaimana yang tergambarkan melalui kutipan-kutipan Buddhadharmanya di bawah ini.

Dimulai dari sampul belakang AKAR yang mengenalkan selintas tokoh Bodhi ini:

Kuraih simpul bandanaku, menguraikan perlahan, mengangkatnya hati-hati. Dan kusambut kesiap sunyi. Reaksi semua manusia kala pertama mereka melihatku tanpa penutup kepala. Mereka diam karena meragu … Adakah anak bernama Bodhi, yang mencuci sebagian tubuhnya Cuma untuk bercerita, bersila sempurna dengan tasbih kayu di tangan kiri, adalah manusia? Sekalipun ia berkata-kata seperti mereka. Bernapas dengan paru-paru. Berjalan di atas dua kaki. Dan sering nongkrong di warung si gombel.

Semua diawali dengan kalimat sama. Ini kisah perjalanan menemukan diri, yang di ujung ceritanya nanti, perjalanan itu pun masih belum selesai ….

Om Ra Om Svar Namo Saptanam Samyaksambuddha Kotinam Jita Om Jarah Wajra Kundhi Svaga Om Bhur Om Mani Padme Hum.

Itulah mantra Bodhisatva Tangan Seribu. Bukan jampi-jampi. Jangan merasa terintimidasi. Saya tidak menyuruh kalian menirukannya. Ini hanya syariat saya, ritual yang selama delapan belas tahun saya jalankan di vihara. Ritual yang tidak bisa saya lepaskan begitu saja. (30)

Pulang ke vihara, Guru Liong langsung mengajak saya puasa. Dan berbulan-bulan, nggak berhenti-henti, kami berdua membaca dharani, sutra, mantra. Guru Liong menduga karma saya pada masa lalu sangat-sangat parah, termasuk garuka karma – lima karma terberat,  empat parajika, dan dasa akusala karma – sepuluh perbuatan paling jahat. (37)

Saya membaca dharani Sukhavativyuha – kata Guru Liong dapat menghancurkan akar dari segala karma buruk – genap sampai 300.000 kali, yang konon bisa mempertemukan kita dengan Buddha Amitabha. Tapi nggak ketemu-ketemu.

Supaya kembali suci, saya lalu baca mantra Mahacundi sebanyak 900.000 kali, yang mestinya dapat imbalan dua dewa pelindung dari para Bodhisattva. Tapi mereka juga nggak datang-datang. (37)
“Kamu mungkin tidak pernah jadi Nabi atau juru selamat, Sanders, tapi kau bisa jadi dirimu sendiri. Karena, apabila kamu ingin mencicipi apelku, jangan Cuma pandangi gambarnya. Makan! Apabila kamu ingin Buddha, jangan Cari dia. Jadilah dia!” (129).

Dan yang terpenting, tambahku. Kalau bertemu dengan Buddha di jalan, bunuh dia! Kalau enggak, kita cuma berhenti pada tahap mengimitasi, bukan begitu?” Have you killed Buddha before? Aku menggeleng. But he killed me, gumamku. Ribuan kali ia membunuhku.” (131)

“Oh, ya Tristan, teruslah bicara. Aku ingin menjadi guru Tilopa yang menggaplok Naropa dengan kelom kayu supaya muridnya itu tersadar dan dapat pencerahan. Aku tidak bisa kasih jaminan kau tercerahkan, tapi aku bisa jamin gaplokanku mantap. Bolak-balik kalau perlu. Supaya kau berhenti menatap dengan mata kelinci penuh mimpi itu.” (123).

“Sanders, kemana rambutmu? Tristan tertawa lebar – saya jadi Getsul sekarang! Getsul, otot sekitar alisku lenjeng berkontraksi. Calon Bhikhu – Vajrayana! Dia jadi Buddhis?! Tibetan Buddhis? Aku kehilangan kata-kata. Aneh nian hidup ini.” (116).

“Kalian mungkin harus menunggu kehidupan berikutnya untuk bertemu lagi denganku … Ayolah, Dalai Lama, Buddha, Bodhisattva, atau siapa pun itu, nggak bakal marah, kok! Dan, jangan kaget, siapa tahu kalian malah ketemu mereka malam ini …ha ha! Like I meet my ancestors every bleeding’day” (125).

“Seumur hidupku atau beribadah mengatur nafas.” (125). “Tristan si maniak Buddha,” (126). “Ampun, Tristan. Aku ini tidak tahu apa-apa. Namun faktanya, kalau kau si gundul A, dan aku si gundul B, gundul A-lah yang akan berkarier cemerlang. Kita bisa langsung tahu dengan melihat semangatnya mereguk ilmu dan posenya bermeditasi. Si gundul B itu tak tertolong. Selagi kecil seperti tukang sihir. Gedean dikit jadi sapi sekarat. Puncaknya, gurunya memanggil dia Guru! Tidakkah dunia samsara ini lucu?” (122).

“You gave me my first Abhiseka! Trumpa Rinpoche bilang, murid yang meminta ditunjukkan jalan menuju kebodhian akan diberi sesuatu oleh gurunya. Seumur hidup saya selalu mencari-cari kebenaran yang sejati, saya muak dengan kemunafikan global ini, dan tiba-tiba kita dipertemukan, even your name is Bodhi! Dan kamu berasal dari Indonesia, tanah suci, tempat Atisha belajar Agama Buddha yang lalu dia sebarkan ke Tibet, pada zaman kerajaan … eh, apa namanya?” (123).

“Buku petuah hidup Dalai Lama, buku-buku Chogyam Trungpa, kumpulan Sutra, kitab Dharma, buku-buku Choyam Trungpa, dan tak ketinggalan kamus Inggris-Pali. Hampir setiap malam dia minta izin ke yang lain untuk membawa lampu teplok dari depan supaya bisa terus membaca. Dia bicara denganku tentang sejarah Buddha, apa kesamaan dan perbedaan antara Mahayana – Hinayana, filosofi Yogacara –Madhyamika, dan betapa tak sabar dirinya menginjakkan kaki ke Nepal. Pose Bhumisparsa – Mudranya pun sempurna laksana arca Buddha di kuil-kuil.” (122).

“Oh, Sanders, aku menjadi Buddhis karena terjebak dari lahir. Tidak pernah aku mempertanyakan beda ini dan itu. Kenapa, misalnya, di tempat pemujaanku Buddha Sakyamuni bersanding dengan Dewi Kwan Im dan Khong Hoe Tjoe? Kenapa bukan dengan Khong Guan?” (122).

“Kell juga menunjukkan ornamen simpul yang membelit tanpa ujung pangkal, yang merefleksikan bahwa jiwa individu merupakan fragmen dari keilahian, yang melalui sekian suksesi hidup-mati akan mengalami proses pemurnian – sama seperti pikiran yang mengucap mantra – melakukan pengulangan demi mencapai tiada. Dan aku bulat utuh menjadi muridnya. Terpengaruh setiap garisnya.” (67).

“Kell dan gelandangan itu tertawa-tawa, seolah tersadar samsara masing-masing bahwa mereka sepasang kekasih dalam kehidupan terdahulu.” (62)

“Sepanjang hari yang kulihat adalah museummu, kuil, candi. Banyak sekali candi, dan banyak sekali Buddha. Sambil berjalan aku pun berpikir, pernahkah Sang Buddha membayangkan bahwa kelak fisiknya akan menjadi sumber seni? Demi beroleh Nirvananya atau sekadar bersentuhan dengan wujudnya, manusia memahat sepanjang hayat, mendulang emas, ,bahkan memermak gua. Melihat semua karya-karya membuatku merasa jadi manusia tak tahu terima kasih. Tanganku tak pernah memahat wajahnya, atau melukiskan pose-posenya. Sambil berjalan aku pun berpikir, dapatkah aku, yang hanya berjalan kaki ini, beroleh Nirvana yang sama? Dan apakah mereka-mereka, yang sudah mendedikasikan seluruh hidupnya untuk menghias Buddha, telah beroleh Nirvana itu?” (100).

“Dalam hati, cukup di dalam hati, aku membaca sebuah mantram: Om-Siu Toli – Siu Toli – Siu Mo Li – So Poho. Mantra untuk menyucikan raga. Entah ragaku, atau raganya.” (77). “Om – Siu Li Siu Li – Mo Ho Siu Li – Siu Li – Sat – Po Ho. Mantra untuk menyucikan mulut Star bersih-bersih.” (77).

 “Kemajuan yang lumayan untuk bhikhu Bodhi” (86). “selalu timbul perasaan bahwa seharusnya aku di sana, dalam belitan tiga potong kain oranye yang melambangkan pengabdian, melepaskan bandana di kepalaku karena toh sudah sama-sama gundul …. Terkadang ada rasa getir di lidah saat melihat kebersamaan mereka … sementara aku sendiri di sini.” (92).

Menemukan Dharma

Perjalanan menemukan Dharma menjadi Buddha seperti yang terlukiskan melalui Tokoh Bodhi sebagaimana yang menjadi keyakinan umat Buddha memang dapat diraih dalam kehidupan saat ini juga. Namun begitu besar kemungkinan perjalanan itu masih panjang dan membutuhkan waktu.

Bodhi masih akan tetap berjalan mencari dirinya, dan Dewi Lestari pun masih tetap akan berkarya melukiskan nafas kehidupannya. Memang ada baiknya belajar dari kehidupan, sebagaimana banyak yang dilukiskan para seniman sastra melalui karya-karyanya.

Bercermin dalam sebuah karya sastra, seakan juga menyodorkan kita akan perjalanan kehidupan ini yang senantiasa penuh warna dan perenungan serta terkuaknya kecemerlangan kristal-kristal Dharma.

Melalui karya sastra, Dewi Lestari telah menyodorkan kepada kita tentang sebuah makna pelajaran Buddhadharma sebagai sebuah proses pencaharian diri untuk menemukan Dharma, menemukan apa sesungguhnya diri, menemukan Bodhi, mencapai pencerahan, menjadi Buddha, melalui tokoh Bodhi dalam karyanya Supernova.

Dewi Lestari dalam Supernova telah “menemukan Dharma”, menciptakan tokoh Bodhi yang berproses menjadi Buddha. Tampaknya tokoh Bodhi tidak lain adalah Dewi Lestari sendiri, dan  bila ini tidak keliru, tiada salahnya bila dalam kesempatan ini  kita turut mengucapkan selamat andai Dewi pun telah berproses dan sedang menjadi “Buddha”. (Jo Priastana)

 

Siapa yang Online

We have 1 guest online

Dharma Hari Ini

Jika Anda menderita dan membuat orang yang Anda cintai menderita, tidak ada yang dapat membenarkan keinginan Anda.  (Thich Nhat Hanh)

 

SocialTwist Tell-a-Friend