Skip to content
  • bodhidharma
  • bodhidharma
  • bodhidharma
  • bodhidharma
  • bodhidharma
  • bodhidharma
  • bodhidharma
  • bodhidharma
  • bodhidharma
  • bodhidharma
  • bodhidharma
  • bodhidharma
You are here: Home Tokoh Maha acarya hsuan sua
Maha acarya hsuan sua

Maha Acarya yang memiliki nama Dharma An Tse dan nama lain Tu Lun, menerima Dharma dari Maha Acarya Hsu Yun dan menjadi patriach ke Sembilan dari silsilah Wei Yang. Nama beliau adalah Hsuan Hua, dan beliau dikenal juga sebagai Bhiksu Batu Nisan. Beliau lahir di desa Shuangcheng propinsi Jilin, pada tanggal enam belas bulan ketiga tahun Wu Wu pada akhir masa dinasti Qing. Nama ayahnya Pai Fuhai. Ibunya, yang nama gadisnya Hu, adalah seorang vegetarian dan banyak melafalkan  nama Buddha semasa hidupnya. Ketika dia mengandung Maha Acarya Hsuan Hua, ia memanjatkan doa kepada para Buddha dan Bodhisattva. Malam sebelum melahirkan, dalam mimpinya ia bermimpi melihat Amitabha Buddha yang memancarkan sinar yang sangat terang. Keesokan harinya Maha Acarya Hsuan Hua lahir.

Semasa kecil, beliau mencontoh ibunya menjadi vegetarian dan melafalkan nama Buddha. Ketika berumur 11 tahun, beliau menyadari masalah besar yaitu kelahiran dan kematian serta ketegaran hidup, sehingga beliau memutuskan untuk meninggalkan kehidupan duniawi. Pada usia 13 tahun beliau menerima tiga perlindungan (Trisarana) pada Maha Acarya Chang Zhi. Ketika berumur Sembilan belas tahun, ibunya meninggal dan beliau meminta kepada Maha Acarya Chang Zi untuk mencukur rambutnya di Vihara Sanyuan. Dengan berjubah Bhiksu, beliau membangun sebuah kuti di dekat makam ibunya dan melaksanakan semua kewajiban bakti seorang anak. Selama masa itu, beliau bersujud pada Sutra Avatamsaka, dalam bentuk upacara dan pertobatan diri, melaksanakan meditasi zen, mempelajari ajaran-ajaran dan merenung, serta dengan ketat melaksanakan aturan (Asthasila) hanya makan satu kali sehari yaitu di siang hari. Sejalan dengan bertambahnya ilmu beliau, penduduk sekitarnya semakin mengagumi dan menghormati beliau. Usaha beliau yang tulus dan tiada henti dalam melatih dan mensucikan diri juga telah membuat para Buddha dan Bhodhisattva, juga para Dewa Pelindung Dharma serta Naga merasa tersentuh. Keajaiban-keajaiban yang terjadi terlalu banyak untuk dirinci. Sejalan dengan semakin tersebarnya cerita tentang kegaiban ini, beliau diyakini sebagai Bhiksu yang istimewa.

Sebagai ungkapan hormatnya kepada Maha Acarya Hsu Yun yang dianggapnya sebagai pahlawan besar Buddhisme, beliau mengunjungi Maha Acarya Hsu Yun pada tahun 1946. Maha  Acarya Hsu Yun melihat bahwa beliau akan menjadi tokoh penting dalam Dharma, dan mewariskan nadi Dharma kepada beliau dan menjadikannya patriach kesembilan dari silsilah Wei Yang, generasi keeemat puluh enam sejak patriach Mahakashyapa.

Pada tahun 1948, beliau meninggalkan Maha Acarya Hsu Yun dan pergi ke Hongkong untuk menyebarkan Dharma. Beliau menekankan sama pentingnya pada lima sekolah, yaitu: Zen, Doktrin, Vinaya, Esoteric, dan Surga Sukhavati. Dengan begitu, akan berakhirlah silang pendapat antar sekte. Beliau juga merenovasi kuil-kuil tua, mencetak sutra-sutra, dan membuat patung-patung. Beliau membangun Western Bliss Garden Monastery, ruangan belajar bagi umat Buddha dan Cixing Monastery. Memberi pelajaran berbagai macam sutra-sutra yang tidak sedikit, yang membuat Buddhisme berkembang luas di Hong Kong.

Pada tahun1959, beliau melihat bahwa kondisi di barat sudah cukup matang, dan meminta murid-muridnya untuk Sino – American Buddhis AssociationDharma Realm Buddhist Association) di Amerika Serikat. Pada tahu 1962, atas undangan umat Buddhis di Amerika, beliau berangkat sendiri ke Amerika Serikat, dimana beliau mengibarkan bendera Dharma yang sesungguhnya di ruangan belajar bagi umat Buddha di San Fransisco. (kemudian diganti namanya menjadi

Pada tahun 1968 diselenggarakan pelajaran Suranggama dan pelatihan di musim panas dan puluhan orang mahasiswa dari universitas Washington di Seattle datang untuk mempelajari Buddha-Dharma setelah pelajaran selesai, lima pemuda Amerika memohon untuk dicukur rambutnya dan menjadi Bhiksu. Hal tersebut menandai lahirnya Sangha dalam sejarah Buddhisme di Amerika. Sejak itu, jumlah murid-murid Amerika yang meninggalkan kehidupan duniawi dibawah bimbingan beliau terus bertambah. Beliau memberikan pengaruh yang sangat besar dan luas pada penyebaran Buddha-Dharma dan terjemahan Sutra-Sutra di dunia Barat. Penjelasan-penjelasan tentang sutra dan ceramah-ceramah tentang Dharma yang diberikan oleh beliau sangat dalam akan tetapi mudah dimengerti.

Tanpa terasa beberapa dekade telah lewat, dan beliau telah mengangkat kedudukan Dharma dan telah memberikan lebih dari sepuluh ribu ceramah Dharma. Lebih dari seratus ceramah beliau telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Tidak ada seorang pun yang memperkirakan sutra yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris akan begitu banyak. Pada tahun 1973 beliau mendirikan International Translation Institute, yang berencana menterjemahkan seluruh kitab suci agama Buddha ke dalam bahasa setiap negara, sehingga Buddha-Dharma akan menyebar ke seluruh dunia.

Pada tahun 1974, beliau membeli City of Ten Thousand Buddhas dan mendirikan Univertas Buddhis Dharma Realm dan program pelatihan Sangha dan umat awam untuk melatih insan-insan Buddhis professional berskala internasional. Lebih jauh lagi, beliau mendirikan Sekolah Dasar Penanaman pelajaran Kebajikan dan Sekolah Menengah Pengembanga Kebajikan untuk menyelamatkan pikiran anak-anak dari perbuatan korup. Tahun-tahun setelah beliau  berhasil mendirikan Gold Mountain Monastery, Gold Wheel Monastery, Gold Summit Monastery, Gold Buddha Monastery, Avatamsaka Monastery, Dharma Realm Monastery, Amitabha Monastery, City of Dharma Realm dan tempat-tempat jalan tengah lainnya dari Dharma yang sesungguhnya. Dengan mendedikasikan dirinya untuk selamanya, beliau tidak keberatan untuk bekerja keras dan mengalami penderitaan. Sebagai teladan dalam mendirikan dan menyebarkan ajaran, serta dalam rangka  mengembangkan bakat-bakat generasi penerus, beliau mempersembahkan City of Ten Thousand Buddhas sebagai “Tempat berlindung umat Buddha seluruh dunia”. City of Ten Thousand Buddhas memiliki peraturan yang ketat, dan para pengunjung berjuang untuk menerapkan enam prisip agung yang dicanangkam oleh beliau ketika meninggalkan keduniawian yaitu: tidak bertengkar, tidak serakah, tidak mengejar kesenangan duniawi, tidak mementingkan diri sendiri, tidak mengejar keuntungan pribadi, dan tidak berbohong. Berkat pengaruh dari keteguhan dan pelatihan dari beliau, City of Ten Thousand Buddhas telah menjadi tempat jalan tengah umat Buddha yang sangat penting di Amerika Serikat. Beliau mengarang sebuah syair untuk mengekspresikan ajarannya:

Mati kedinginan pun, kita tidak berlindung

Mati kelaparan pun, kita tidak mengemis

Mati karena miskin pun, kita tidak meminta apa-apa

Selaras dengan dengan kondisi yang ada, kita tidak berubah

Karena tidak berubah, kitabselaras dengan kondisi yang ada

Kita berpegang teguh pada tiga prinsip agung

 

Kita tinggalkan keduniawian untuk melakukan tugas-tugas Buddha

Kita bertanggung jawab untuk membentuk nasib kita sendiri

Kita luruskan hidup dengan melaksanakan tugas-tugas Sangha

Dengan menghadapi kejadian-kejadian khusus, kita memahami prinsip-prinsip dasar

Dengan memahami ajaran dasar, kita terapkan ke dalam hal-hal khusus

Kita terus berada dalam satu denyut dengan pikiran leluhur

Keagungan Samadhi dan kebijaksanaan beliau benar-benar telah membuka jalan bagi pencerahan makhluk-makhluk hidup di masa-masa Dharma yang suram. Seolah-olah dalam malam yang gelap, kita tiba-tiba melihat terangnya lampu kebijaksanaan (Prajna), dan di tengah ketidakjelasan, kita mencium harumnya silsilah Dharma. Seperti bunga teratai suci yang tumbuh dan mekar di tengah-tengah Lumpur. Pada saat kita memahami kondisi tak kasat mata dari pelatih diri yang agung, kita tergerak untuk menyatakan pujian dan keharuan kita.

Pendiri The City of Thousand Buddhas di Amerika Serikat

(Diterjemahkan dari buku Venerable Master Hua’s talk on Dharma vol 2 oleh tim penterjemah Bodhidharma)

 

 

Siapa yang Online

We have 1 guest online

Dharma Hari Ini

Begitulah, kebaikan yang disusun, ditata, dan ketulusan yang tak henti mengalir akan terus menjadi tatanan alur aliran-aliran lainnya sampai ke suatu tempat yang INDAH dan DAMAI, karena sesungguhnya meski secupil kebaikan, ia tak akan habis dimakan zaman. Vidya Sasana Sthavira

 

SocialTwist Tell-a-Friend