| Subhuti |
Theragatha : gubuk saya beratap, nyaman,bebas dari angin. Pikiran saya, terfokus dengan baik, terpasang bebas Saya tetap bersemangat Demikian, Dewa hujan mejulah dan tebarkan hujan. Subhuti merupakan salah satu siswa utama Sakyamuni Buddha. Beliau mampu memahami potensi dari kekosongan. Demikian beliau disebutkan sebagai yang ahli dalam memahami kekosongan. Ada sebuah kutipan dari kisah zen yang bercerita demikian: “Suatu hari, Subhuti duduk di bawah pohon dalam konsentrasinya memahami kekosongan yang luhur. Bunga-bunga mulai mulai jatuh disejutar beliau. ‘Kami memuji anda atas pembahasan anda mengenai kekosongan’”. “Tetapi saya belum berbicara apapun mengenai kekosongan,” kata Subhuti. “Anda belum berkata-kata mengenai kekosangan, dan kami belum mendengar mengenai kekosongan.” Para dewa menjawab. “Inilah kekosongan sejati”. Dan bunga-bunga bertebaran menghujani Subhuti. Subhuti dilahirkan dalam keluarga Brahmana di kota Sravasti. Ketika beliau lahir, harta keluarganya baik yang ada di rumah maupun gudang tiba-tiba hilang. Orang Tuanya kaget atas kejadian tersebut lalu memanggil peramal untuk mengetahui sebab musababnya. Peramal mengatakan bahwa itu adalah pertanda baik, jadi tidak ada yang perlu ditakutkan. Selang tujuh hari harta tersebut kembali. Berdasarkan kejadian itu maka Subhuti memiliki 3 nama lain yang berbeda yaitu “kelahiran kosong” karena harta keluarganya lenyap, “pertanda baik atau untung” karena ramalan dan “perwujudan yang baik” karena setelah tujuh hari harta keluarganya kembali. Subhuti adalah seorang yang pintar namun memiliki emosi yang jelek. Kemudian beliau menjumpai Sakyamuni Buddha dan mendengar ajaran-Nya. Beliau kemudian menjadi murid dari Sakyamuni Buddha dan menjadi yang pertama dalam memahami kekosongan. Ada beberapa kisah yang menarik dari murid Sakyamuni Buddha ini. Pengertian Subhuti akan kekosongan Dalam Vajra Sutra ( Sutra Intan) ditulis demikian : “Subhuti, bagaimanakah menurut pikiranmu? Apakah Sang Tathagata dapat dikenal dari beberapa ciri jasmani?”. “Tidak Bhagava, Sang Tathagata tidak dapat dikenal dari ciri jasmani apapun juga.” Jawab Subhuti. Mengapakah? “Karena seperti Sang Tathagata sabdakan bahwa cirri-ciri jasmani pada hakekatnya bukan cirri-ciri jasmani.” Imbuhnya lagi. Kemudian Sang Buddha bersabda: “Subhuti, dimana pun juga terdapat ciri-ciri jasmani, di situlah terdapat kesesatan. Tetapi, barang siapa menembus bahwa ciri-ciri jasmani sebenarnya bukan ciri-ciri, ialah kemudian yang segera melihat Sang Tathagata.” Dikisahkan suatu kali Sakyamuni Buddha pergi ke surga untuk membabarkan Dharma kepada ibunya dan semua makhluk lainnya. Tiga bulan kemudian, Sang Buddha kembali ke dunia. Mengetahui Sang Guru Junjungan telah kembali, semua murid-murid berdatangan menyambut Sang Guru. Pada waktu itu Subhuti sedang berada di gunung Gardharakuta, memperbaiki jubahnya. Ketika dia mendengar berita gembira tersebut, Beliau juga ikut gembira dan segera meninggalkan pekerjaannya. Tetapi segera saat dia akan berangkat, untuk menyambut Sang Buddha, sebuah pikiran muncul tiba-tiba. “Tubuh sejati dari seorang Buddha tidak bisa dilihat dengan mata biasa. Jika saya pergi menyambut Sang Buddha sekarang, itu berarti saya memperlakukan kombinasi dari empat elemen utama (api, air, kayu dan tanah) sebagai perwujudan sejati dari Sang Buddha. Sebenarnya kombinasi itu adalah tidak kekal. Kepergian saya untuk menyambut akan menunjukkan bahwa saya tidak mengerti konsep dari “kekosongan”, yang mana merupakan kebenaran yang universal. Bemudian ia berpikir kembali bahwa, “Saya tidak dapat melihat perwujudan sejati dari Sang Buddha. Perwujudan sejati dari Sang Buddha adalah kekosongan, yang mana berarti ada dimana-mana. Demikian, Sang Buddha ada dimanapun juga.” Setelah memahami demikian, Subhuti duduk kembali dan meneruskan menjahit jubahnya. Diantara semua murid yang menyambut Sang Buddha, Utpalavarna, seorang Bhiksuni segera menggunakan kekuatan batinnya yang terhebat muncul pertama kali menyambut Sang Buddha. Ketika dia melihat Sang Guru, lalu segera bersujud seraya berkata, “Buddha, saya, Utpalavarna, murid pertama yang menyambutMu.” Sang Buddha tersenyum, “Utpalavarna, kamu bukan yang pertama, tetapi Subhuti. Karena dia telah melihat ke“tanpa aku”an (Anatta) dari segala hal dan memahami kekosongan dari segala sesuatu. Demikian dia juga mengerti bahwa dia melihat saya dimanapun dia mendengar ajaran saya, demikianlah dia menjadi yang pertama menyambut saya.” Teguran Terhadap Subhuti Menurut aturan yang ditetapkan Sang Buddha, para Bhiksu dan Bhiksuni harus melakukan pindapatta dari pintu ke pintu untuk mendapatkan makanan, tanpa memandang status dari pemberi dana. Walau demikian, Subhuti selalu pergi ke tempat orang kaya saja untuk berpindapatta, tidak peduli seberapa jauh tempatnya. Selang beberapa lama, para Bhiksu mengetahuinya dan mulai mengkritik beliau sebagai pencari makanan mewah dan memandang rendah orang miskin. Subhuti menjelaskan bahwa dia berpindapatta terhadap orang kaya bukan karena keinginan akan makanan mewah, tetapi karena orang miskin sudah bermasalah dalam memberi makan dirinya, jadi bagaimana mereka mampu menyisakan makanannya untuk kita? Bahkan cukup memalukan bahwa kita tidak dapat memberi mereka makanan. Tetapi, bagi orang kaya, hal itu bukan masalah karena mudah bagi mereka, itu alasan saya. Kasyapa kemudian menjumpai Subhuti sambi berkata, ”Saya berpinapatta terhadap orang miskin supaya mereka berkesempatan berbuat kebajikan. Mereka miskin karena kurang melakukan kebajikan, jadi di masa depan mereka dapat menerima pahala dengan berdana makanan pada para Bhiksu”. Subhuti balas berkata, “ Berpindapatta dari orang kaya atau miskin memberi pahala bagi mereka. Ada banyak cara untuk melakukan praktik spiritual sesuai ajaran Sang Buddha, jadi kita masing-masing dapat menjalani apa yang sesuai”. |
|




