Skip to content
  • bodhidharma
  • bodhidharma
  • bodhidharma
  • bodhidharma
  • bodhidharma
  • bodhidharma
  • bodhidharma
  • bodhidharma
  • bodhidharma
  • bodhidharma
  • bodhidharma
  • bodhidharma
You are here: Home Tokoh Yasodhara membuktikan kesetiaannya
Yasodhara membuktikan kesetiaannya
Ketika Sang Buddha tiba di Kapilavattu, semua orang di kota itu menyambut dengan penuh suka cita. Betapa tidak, Pangeran Siddharta Gautama yang diharapkan menjadi pewaris takhta kerajaan Sakya itu menjadi pujaan masyarakat setempat. Apalagi setelah berhasil mencapai cita-citanya menjadi Buddha. Mereka menyambut kedatangan Sang Buddha yang untuk pertama kalinya datang ke kota tempat di mana dia dibesarkan.

Rakyat menyambut dengan gembira. Berduyun-duyun orang datang menemui-Nya memberi hormat. Semua mengagumi dan memuja Sang Buddha yang telah menjadi guru para dewa dan manusia. Tetapi, dari sedemikian banyak orang yang datang menemui dan menghormat kepada Sang Buddha terdapat orang penduduk Kapilavatthu yang tidak menemui-Nya, yakni Puteri Yasodhara, istri Pangeran Siddharta Gautama.

Puteri Yasodhara adalah anak Raja Suppabuddha dari negeri Devadaha. Ibunya, Ratu Amta adalah adik Raja Suddhodana ayah Pangeran Siddharta Gautama. Puteri Yasodhara dan Pangeran Siddharta Gautama menikah pada usia sama-sama16 tahun. Pangeran Siddharta Gautama memoeristri Puteri Yasodhara setelah melalui sayembara dengan mengatasi para pangeran lainya yang juga menginginkan Puteri Yasodhara.

Tiga elas tahun Puteri Yasodhara dan Pangeran Siddharta Gautama berumah-tangga, hingga suatu hari Pangeran tanpa pamit terlebih dahulu meninggalkannya untuk menempuh cita-cita-Nya menjadi Buddha. Kini suaminya itu telah kembali dengan keberhasilan-Nya menjadi Buddha, dan semua orang datang memuja dan menghormat-Nya. ”Haruskah aku berlaku sama seperti orang lain yang datang menghormatiNya? Bukankah Beliau kini telah menjadi Buddha yang pantas  didatangi dan dihormati?” pikir Puteri Yasodhara.

|Bukti Kesetiaan

Puteri Yasodhara, menantu Raja Suddhodana ini berada di kamarnya ketika Sang Buddha datang.”Pangeran Siddharta Gautama kini sudah mencapai Penerangan Agung dan menjadi Buddha. Apakah pantas kalau aku sekarang datang menemui-Nya? Aku rasa, lebih baik aku tunggu saja dan lihat apa yang akan terjadi. Kalau Beliau datang menemuiku, aku akan memberi penghormatan yang layak”, pikirnya.

Puteri Yasodhara yang berumur sama dengan Sang Buddha ini meminta Sang Buddha yang datang kepadanya, sedangkan orang-orang yang lain datang kepada Sang Buddha. Bagaimana ini, adakah sesuatu yang spesial untuk orang seperti puteri Yasodhara. Ya, dan suasana psikologis Puteri Yasodhara itu barang kali dapat digambarkan seperti di bawah ini:

Sebagai istri yang ditinggal Pangeran Siddharta Gautama tanpa pamit adalah manusiawi bila sang kekasih yang telah kembali itu datang terlebih dahulu menemuinya. Kini kekasihnya itu telah berhasil mencapai cita-cita-Nya menjadi Buddha  dan kembali ke kotanya tempat dimana dia dibesarkan dan selama tiga belas tahun hidup bersamanya.

Tidakkah permintaan Puteri Yasodhara itu sesuatu hal yang berlebihan? Dulu engakau pergi tanpa pamit, membuatku sedih namun begitu aku tetap selalu mendoakan engkau agar berhasil. Kini engkau telah kembali dan berhasil. Tegakah engkau, suami yang meninggalkan istrinya dan kini telah berhasil serta dielu-elukan sebagai Buddha tidak menjengukku?

Bagaimanakah kesetiaanku, doa harapanku dan kerinduanku selama ini kepadaMu dapat terbukti? Duhai kekasihku yang maha cinta kasih, adakah engkau tidak sedikit pun menaruh peghargaan kepadaku, istri setia yang kau sia-siakan? Duhai junjunganku, bukannya aku tidak mau menghormati-Mu yang telah menjadi Buddha, guru para dewa dan manusia. Wanita mana yang tidak mau menghormati dan gembira terhadap suaminya yang kembali dari perantauannya, apalagi suamiku yang telah berhasil mencapai cita-citanya menjadi Buddha?

Seharusnya akulah wanita dan orang pertama yan bangga terhadapMu. Bukakah akulah orang terakhir yang paling dekat denganMu ketika kau pergi tanpa pamit mengejar  cita-cita yang kini kau alami keberhasilannya? Bukankah aku ibu dari putraMu, darah dagingMu sendiri yang tidak pernah mendapat kesempatan belaian kasih sayangMu? Oh kekasihku, wanita mana yang tidak bangga pernah bersuamikan kamu? Berilah kesempatan kepadaku menumpahkan rasa rinduku ini dan sebagai ksetiaanku, pembenaran tindakanku selama ini. Oh junjungan, biarlah aku menghormatiMu dengan caraku sendiri.
Basah Air Mata

Seakan (dan sudah pasti tentunya) mendengar suara batin Puteri Yasodhara itu. Maka setelah menerima penghormatan dan berbicara kepada orang yang mengunjunginya, sang Buddha pun bertanya, ”Di manakah Puteri Yasodhara?” Raja suddhodana yang berada di sisi-Nya menjawab, ”O, Yasodhara berada di kamarnya”. Sang Buddha pun berdiri dan berkata, ”Kalau begitu, marilah kita pergi menjenguknya”.

Sang Buddha kemudian menyerahkan mangkuk-Nya kepada Raja Suddhodana dan bergegas berjalan menuju kamar Puteri Yasodhara. Waktu tiba di depan kamar Puteri Yasodhara, Sang Buddha berpesan kepada ayah-Nya: ”Biarkan Puteri Yasodhara memberi hormat kepada-Ku sebagaimana yang dikehendaki. Jangan berkata apa-apa atau melarangnya”.

Ketika Puteri Yasodhara tau sang Buddha akan datang ia memerintahkan kepada semua pelayannya memakai baju kuning untuk memberi hormat selamat datang kepada Sang Buddha. Sang Buddha pun Tiba dihadapan kamar Puteri Yasodhara, dan......

Pada saat sang Buddha menginjak kaki-Nya di kamar Puteri Yasodhara, dengan cepat Puteri Yasodhara yang cantik dan setia itu menyambut-Nya, berlutut dan memegang kaki Buddha. Puteri Yasodhara melepaskan rasa rindunya dengan meletakkan kepalanya di atas kaki Sang Buddha dan menangis tersedu-sedu sehingga kaki sang Buddha basah dengan air mata. Kerinduan Puteri Yasodhara itu pun tumpah bersama air matanya.

Melihat ekspresi Puteri Yasodhara, sang Buddha berdiam diri saja dan dengan batin yang waspada, beliau memancarkan gaya-gaya kasih sayang dan welas kasih kepada Puteri yang sedang menangis memegangi kaki-Nya, istriNya yang ditinggalkannya tanpa pamit. Setelah lewat beberapa saat, Puteri Yasodhara yang sedang menangis itu membersihkan kaki Sang Buddha yang basah dengan air mata. Kemudian dengan sikap seorang umat layaknya ia memberi hormat dan mempersilahkan Sang Buddha dan Raja Suddhodana mengambil tempat duduk masing-masing sudah disediakan.

Istri Setia

Setelah Puteri Yasodhara sendiri mengambil tempat duduk, raja Suddhodana kemudian berkata kepada Sang Buddha: ”Yang Maha Bijaksana, waktu Puteri mendengar bahwa anakku memakai jubah kuning, puteri pun memakai baju kuning; waktu anakku makan hanya satu kali sehari, Puteri pu makan sehari sekali; waktu Puteri mendengar anakku tidur di atas dipan yang rendah dan sederhana, Puteri pun tidur di atas dipan yang rendah dan sederhana; waktu Puteri mendengar bahwa anakku tidak lagi memakai untaian bunga dan wewangian, Puteri pun tidak lagi memakainya; waktu keluarganya mengirim pesan bahwa mereka bersedia menanggung semua keperluan hidupnya, Puteri tidak menggubrisnya sama sekali. Sungguh bijak mantuku Puteri Yasodhara ini”.

Sang Buddha menjawab: ”Bukan dipenghidupan ini saja, O Baginda, juga dalam penghidupan-penghidupan yang lampau Puteri Yasodhara selalu melindungi, memberkati dan setia kepadaku”. Kemudian, Sang Buddha menceritakan Candakinnara Jataka, kisah tentang penghidupan-Nya yang lampau bersama Yasodhara.

”Ketika Sang Bodhisatva terlahir sebagai seekor Kinnara (burung dengan kepala manusia) bernama Canda hidup di gunung Himawa dengan istrinya yang bernama Canda. Suatu hari ketika mereka sedang bersuka ria di dekat sungai kecil, Canda yang cantik itu terlihat oleh Raja Benares yang sedang berburu. Seketika itu pun raja jatuh cinta kepadanya. Raja kemudian memanah Canda sang suami sehingga mati. Istrinya memeluk mayat suaminya dan menangis tesedu-sedu.

Raja Benares kemudian menghibur dan menawarkan kepada Canda, apabila ia bersedia menjadi permaisurinya, maka ia akan mempersembahkan segenap cinta dan seluruh isi kerajaannya. Canda tidak menghiraukannya, dan terus meratap dan menangis sambil memprotes kepada para Dewata Agung yang membiarkan suaminya mati dibunuh orang.

Demikian keras protes Canda, sehingga menggerakkan hati Raja Dewa Sakka untuk turun ke dunia menjelma menjadi Brahmana dan menghidupkan kembali Canda. Canda dan Canda itulah yang sekarang dilahirkan sebagai Pangeran Siddharta Gautama dan Puteri Yasodhara.
Abhinna dan Rendah Hati

Dikisahkan  bahwa pada hari itu juga Raja Suddhodana mencapai tingkat kesucian Sakadagai bersama Puteri Pajapati yang menjadi seorang Sotapana. Puteri Yasodhara sendiri yang kemudian bersama Maha Pajapati turut mempelopori terbentuknya Sangha Wanita, juga mencapai tingkat kesucian.

Puteri Yasodhara terkenal sebagai bhikkhuni yang terkemuka. Disamping mencapai tingkat kesucian, beliau juga memiliki kekuatan gaib (Mahabhinnappatta) dan sangat rendah hati. Sungguh rendah hatinya sampai wanita yang bertutur kata lembut ini tidak pernah mengeluarkan kemampuannya abhinnanya itu sedikit dan sekejap pun.

Hingga suatu hari sampai-sampai Sang Buddha sendiri menyuruh Puteri Yasodhara memperlihatkan kemampuan abhinnanya itu. Puteri Yasodhara pun terbang melayang di udara memperlihatkan abhinnanya. Ibu Rahula yang dikenal sebagai perempuan yang berbakti dan setia ini wafat dua tahun menjelang Sang Buddha Parinibhana, yaitu pada usia 78 tahun.

Dalam buku-buku suci, Puteri Yasodhara sewaktu-waktu disebut juga sebagai Rahulamata, Bhaddakaccana, Bimbadevi, Bimbasundari, dan Bimba. Agama Buddha aliran Utara, seperti Mahayana lebih menyukai nama ”Yasodhara”.
 

Siapa yang Online

We have 1 guest online

Dharma Hari Ini

  1. It is better to have the will to resolve than indulging in day dreaming of wealth; it is better to have peace of mind than believing in fate; it is better to get clear insight of our mind than the use of punishments; it is better to purify one’s mind than giving ineffective aid. (Ven. Master Hsing Yun)
SocialTwist Tell-a-Friend