Skip to content
  • bodhidharma
  • bodhidharma
  • bodhidharma
  • bodhidharma
  • bodhidharma
You are here: Home Tokoh
Bodhidharma
YAMAKA VAGGA (Syair Berpasangan), Syair 13 - 14 Kisah Nanda Thera

 

Dhammapada Bab I Syair 13 - 14
Dhammapada Bab I Syair 13 - 14

Suatu ketika Sang Buddha menetap di Vihara Veluvana, Rajagaha. Waktu itu ayah-Nya, Raja Suddhodana, berulangkali mengirim utusan kepada Sang Buddha, meminta Beliau mengunjungi kota Kapilavatthu. Memenuhi permintaan ayahnya, Sang Buddha mengadakan perjalanan dengan diikuti oleh sejumlah besar arahat.

Saat tiba di Kapilavatthu Sang Buddha bercerita tentang Vessantara Jataka di hadapan pertemuan saudara-saudaranya. Pada hari kedua, Sang Buddha memasuki kota, dengan mengucapkan syair berawal "Uttitthe Nappamajjeyya ..." (artinyaseseorang harus sadar dan tidak seharusnya menjadi tidak waspada ...). Beliau menyebabkan ayah-Nya mencapai tingkat kesucian Sotapatti.

Ketika tiba di dalam istana, Sang Buddha mengucapkan syair lainnya berawal "Dhammam Care Sucaritam ..." (artinya seseorang seharusnya mempraktekkan Dhamma ...), dan sang raja berhasil mencapai tingkat kesucian Sakadagami.

Setelah bersantap makanan, Sang Buddha menceritakan tentang Candakinnari Jataka, berkenaan kisah kebajikan ibunya Rahula.

Pada hari ketiga, di istana berlangsung upacara pernikahan Pangeran Nanda, sepupu Sang Buddha. Sang Buddha pergi ke sana untuk menerima dana makanan (pindapatta), dan memberikan mangkok-Nya kepada Pangeran Nanda. Kemudian Sang Buddha pergi meninggalkannya tanpa meminta kembali mangkok-Nya.

Read more...
 
Kisa Gotami Theri yang tercerahkan melalui pengalaman kehilangan

Adakah segala sesuatu yang kita miliki atau yang ada dihadapan dan disekeliling kita ini akan terus selamanya berada bersama kita? Apakah segala sesuatu itu kekal abadi selamanya? Benda-benda yang kita miliki, keluarga, orang tua, anak, saudara atau teman-teman yang kita cintai, adakah mereka semua selalu bersama kita dan kita selalu bersama mereka?

Jawaban akan hal ini tentu mudah, karena pengetahuan mengajarkan kita bahwa segala sesuatu itu akan berubah, hilang dan lenyap. Orang-orang yang kita cintai akan meninggalkan kita entah untuk sesuatu yang menyangkut perjalanan hidupnya atupun karena alasan lainnya, namun yang pasti mereka akan berlalu dan berpisah dari kita karena adanya peristiwa kematian.

Pengalaman hidup ini begitu wajar, alami dan dapat atau bahkan kerap kita saksikan. Namun, apakah peristiwa perubahan ini akan sungguh dapat diterima bila diri sendiri yang mengalaminya?

Bagaimana seseorang bisa menerima dan menghadapinya atas lenyapnya segala kebersamaan terhadap apa yang dicintai, dengan segala apa yang selama ini telah dibangun dengan kerja keras, dipelihara dan dirawat dengan ketekunan dan kasih sayang lenyap ketika dewa ketidak-kekalan itu datang menerpa?

Read more...
 
Supernova Dewi Lestari menemukan Dharma melalui tokoh Bodhi

Novel Supernova, karya Dewi Lestari, khususnya Supernova 2.1 yang diberi judul “akar” bertaburan dengan ajaran-ajaran Buddha. Bahkan setting dan tokoh dalam novel itu sendiri berkaitan dengan Buddhadharma dan lingkungan Buddhis, dimana latar belakang keseluruhan novel itu banyak menyodorkan ajaran Buddha, dan bersetting serta bertokoh utama seorang pemuda bernama Buddhis “Bodhi.”

Melalui karyanya ini Dewi Lestari banyak memberikan pemahaman Buddhdharma melalui kehidupan tokohnya dalam novelnya, suatu pelajaran Buddhadharma yang tampaknya terasa lebih hidup karena beranjak dari perenungan dan penghayatannya yang dalam terhadap Buddhadharma dan peristiwa kehidupan yang tertuang dalam tokoh dan kisah-kisah yang dilukiskannya itu.

Read more...
 
Maha acarya hsuan sua

Maha Acarya yang memiliki nama Dharma An Tse dan nama lain Tu Lun, menerima Dharma dari Maha Acarya Hsu Yun dan menjadi patriach ke Sembilan dari silsilah Wei Yang. Nama beliau adalah Hsuan Hua, dan beliau dikenal juga sebagai Bhiksu Batu Nisan. Beliau lahir di desa Shuangcheng propinsi Jilin, pada tanggal enam belas bulan ketiga tahun Wu Wu pada akhir masa dinasti Qing. Nama ayahnya Pai Fuhai. Ibunya, yang nama gadisnya Hu, adalah seorang vegetarian dan banyak melafalkan  nama Buddha semasa hidupnya. Ketika dia mengandung Maha Acarya Hsuan Hua, ia memanjatkan doa kepada para Buddha dan Bodhisattva. Malam sebelum melahirkan, dalam mimpinya ia bermimpi melihat Amitabha Buddha yang memancarkan sinar yang sangat terang. Keesokan harinya Maha Acarya Hsuan Hua lahir.

Semasa kecil, beliau mencontoh ibunya menjadi vegetarian dan melafalkan nama Buddha. Ketika berumur 11 tahun, beliau menyadari masalah besar yaitu kelahiran dan kematian serta ketegaran hidup, sehingga beliau memutuskan untuk meninggalkan kehidupan duniawi. Pada usia 13 tahun beliau menerima tiga perlindungan (Trisarana) pada Maha Acarya Chang Zhi. Ketika berumur Sembilan belas tahun, ibunya meninggal dan beliau meminta kepada Maha Acarya Chang Zi untuk mencukur rambutnya di Vihara Sanyuan. Dengan berjubah Bhiksu, beliau membangun sebuah kuti di dekat makam ibunya dan melaksanakan semua kewajiban bakti seorang anak. Selama masa itu, beliau bersujud pada Sutra Avatamsaka, dalam bentuk upacara dan pertobatan diri, melaksanakan meditasi zen, mempelajari ajaran-ajaran dan merenung, serta dengan ketat melaksanakan aturan (Asthasila) hanya makan satu kali sehari yaitu di siang hari. Sejalan dengan bertambahnya ilmu beliau, penduduk sekitarnya semakin mengagumi dan menghormati beliau. Usaha beliau yang tulus dan tiada henti dalam melatih dan mensucikan diri juga telah membuat para Buddha dan Bhodhisattva, juga para Dewa Pelindung Dharma serta Naga merasa tersentuh. Keajaiban-keajaiban yang terjadi terlalu banyak untuk dirinci. Sejalan dengan semakin tersebarnya cerita tentang kegaiban ini, beliau diyakini sebagai Bhiksu yang istimewa.

Read more...
 
Subhuti
Theragatha :    

gubuk saya beratap, nyaman,bebas dari angin.
Pikiran saya, terfokus dengan baik, terpasang bebas
Saya tetap bersemangat
Demikian, Dewa hujan mejulah dan tebarkan hujan.

Subhuti merupakan salah satu siswa utama Sakyamuni Buddha. Beliau mampu memahami potensi dari kekosongan. Demikian beliau disebutkan sebagai yang ahli dalam memahami kekosongan. Ada sebuah kutipan dari kisah zen yang bercerita demikian: “Suatu hari, Subhuti duduk di bawah pohon dalam konsentrasinya memahami kekosongan yang luhur. Bunga-bunga mulai mulai jatuh disejutar beliau. ‘Kami memuji anda atas pembahasan anda mengenai kekosongan’”.

“Tetapi saya belum berbicara apapun mengenai kekosongan,” kata Subhuti.

“Anda belum berkata-kata mengenai kekosangan, dan kami belum mendengar mengenai kekosongan.” Para dewa menjawab. “Inilah kekosongan sejati”.
Dan bunga-bunga bertebaran menghujani Subhuti.
Read more...
 
<< Start < Prev 1 2 3 Next > End >>

Page 1 of 3

Siapa yang Online

We have 3 guests online

Dharma Hari Ini

SocialTwist Tell-a-Friend