Skip to content
  • bodhidharma
  • bodhidharma
  • bodhidharma
  • bodhidharma
  • bodhidharma
  • bodhidharma
  • bodhidharma
  • bodhidharma
  • bodhidharma
  • bodhidharma
  • bodhidharma
  • bodhidharma
You are here: Home Renungan Sunya
Sunya

Sunya berarti kosong. Kosong disini bukanlah nihilisme, melainkan sebaliknya suatu kepenuhan. Sunya juga diidentifikasikan dengan Nirvana, Yang Absolut, Realitas Yang Mutlak atau Realitas itu sendiri. Bila Sunya disebut sebagai kosong, maka Sunyata adalah kekosongan.

Sebagai suatu pengalaman, sunya tidak bisa dibagi, melainkan harus dialami sendiri, direalisasi oleh diri sendiri. Sunya merupakan kedamaian yang diakibatkan oleh pemikiran atau intelektualitas. Sunya tidak terungkapkan oleh kata-kata yang merupakan cetusan pikiran. Sunya bukanlah suatu yang terbatas, dan mengatasi pikiran, serta bukan termasuk dualisme.

Sunya yang berarti kekosongan, juga menyangkut mengenai penembusan hakikat segala sesuatu. Segala sesuatu katanya sunya (kosong) adalah dimana segala fantasi atau konsep atau pandangan yang keliru tentang orang, benda, lenyap seperti mimpi yang buyar. Manusia dan segala fenomena lainya adalah sunya,kosong tanpa inti, tanpa substansi.

Karena itu, fenomena sesungguhnya hanyalah nama, konvesi. Fenomena muncul dari kondisi-kondisi yang saling bergantungan. Ada sebenarnya tidak ada. Eksistensi tidak sertai esensi. Saya  tidak ada. Sunya adalah sinonim ajaran Buddha anatta atau tanpa-aku. Sunya menyangkal adanya suatu substansi yang terpisah atau ada dengan sendirinya tanpa tergantung atas yang lain lainya.


Jika kekosongan (sunya) disadari , maka akan terpahami bahwa saya yang tersinggung tidak ada. Tidak terdapat diri atau aku yang reputasinya ditaruh yang begitu tinggi. Tidak ada objek atau mahkluk yang cantik yang perlu dimiliki. Dengan menyadari kekosongan, maka keterikatan, kebencian, iri hati, keangkuhan akan lenyap.

Dengan menyadari sunya seseorang bergerak secara bebas, karena  tenaga dan waktu tidak dihabiskan oleh keterikatan, kebencian, kebodohan, karena hal itu menyangkut cara pandang, pengetahuan kita terhadap fenomena sebagai sesuatu yang tak berinti, atau substansi yang berdiri sendiri.

Menyangkut lenyapnya kebodohan, ini berarti bahwa yang kita butuhkan adalah mengubah pikiran, cara pandang, menginterprestasi, dan beraksi terhadap dunia sekitar dan dalam diri kita sendiri.

Sunya juga sejalan dengan hukum Prattiya Samutpada, bahwa segala benda-benda muncul sebagai suatu serial penampakan, dan semata-mata hanyalah suatu proses, suatu kejadian, suatu peristiwa. Benda pada dirinya sendiri adalah kosong. Sunya terdapat disemua dharma, bahwa segalanya adalah kosong, tanpa inti.

Sunya dapat dipahami sari dua titi-tolak; Pertama berpangkal pada fenomena atau kenyataan empirisnya yang berarti bahwa kosong dari inti yang berdiri sendiri, bebas dari substansi  yang berdiri sendiri. Berpangkal dari pandangan yang absolut, supaya berarti bebas dari pembebebasan, yang terungkapkan oleh kata-kata atau tak tergapai oleh konstruksi pikiran, bebas atau diluar dari dikotomi (dualisme) intelektualitas.

Sunya sebagai kekosongan yang bukan nihilisme berati juga bukanlah suatu teori pada dirinya sendiri. Segi negasi  (pengingkaran) yang terkandung dalam sunya bukanlah menjadikan sebagai nihilsme.

Dalam Dialektika Madhyamika (jalan tengah) Nagarjuna, sunya bukanlah suatu penolakan terhadap realitas. Sunya justru menolak pandangan yang menolak realitas, dan pandangan tentang kemutlakan realitas.

Realitas bukanlah eksistensi atau noneksistensi (ada atau tidak ada), kedua-duanya atau bukan kedua-duanya. Sunyata menyatakan bahwa yang absolut tak terungkap dengan kemampuan bahasa. Yang absolut hanya dapat direalisir sebagai yang bukan dualisme melalui transendensi (prajna).

Karena memegang sunyata sebagai suatu teori bukanlah suatu bahaya, bagaikan memegang ular pada ekornya atau ahli sihir yang terbunuh karena sihirnya. Sunyata bukanlah hanya suatu konsep intelek, merupakan aspirasi kesempurnaan. Untuk  itu diperlukan meditasi, ketidak-terikatan terhadap segala hal, termasuk sunyata itu sendiri sebagai konsep.

Berubahkah aku
“Apakah kamu Indra?” yang ditanya, termangu, bingung….
“Benarkah kamu Indra?” ya..ya.. benar, saya Indra!” jawabnya dengan mantap.
“Benar kamu Indra? Benar?” Ya,benar!  saya Indra. Ia kembali memberikan jawaban dengan nada bingung.”Ada apa dengan diri saya?”
Yang bertanya kemudian melanjutkan, ”kalau begitu deretkan foto-fotomu sejak kamu satu tahun sampai sekarang, apakah wajahmu yang sekarang sama dengan wajah kamu berumur sepuluh tahun?”
“Tidak, tidak sama sekali!” “lalu, kenapa kamu yakin kamu adalah Indra?”
Anak yang bernama Indra itu pun  tambah bingung…
Ya, itulah sepotong tanya jawab antar umat dan salah satu anggota sangha pada kesempatan ceramah dharma di salah satu pusdiklat. Umat lainya juga semakin tertegun, bingung, apa gerangan makna di balik tanya jawab yang tak terduga itu. Namun, tak lama kemudian merekapun sadar bahwa tanya jawab itu merupakan salah satu metode untuk menjelaskan proses perubahan yang umum terjadi tetapi tidak pernah dicermati, karena terselubung oleh kepastian adanya keakuan.

Semua makhluk mengalami perubahan, dan perubahan merupakan sebuah kewajaran yang ada di dunia. Perubahan yang positif dirasakan menyenangkan, membahagiakan, dan  perubahan negatif mendatangkan kesedihan, kesakitan atau penderitaan. Namun banyak manusia yang tidak tanggap terhadap perubahan karena terselubung oleh kepastian akan keakuan yang melekat di dalam dirinya. Terhadap sesuatu yang positif misalnya mereka cenderung melekat dipandang kekal padahal itu bersifat sementara dan akan berubah.

Adanya rasa kepastian akan sesuatu yang menetap seperti keakuan menyebabkan banyak manusia yang tidak siap menghadapi gejala perubahan yang akan dan selalu terjadi itu. Perubahan tidak mau ditanggapi, persiapan tidak dilakukan, dan ketika terjadi, akhirnya mereka mengeluh, menyalahkan keadaan. Mereka berkata bahwa hal ini tidak seharusnya terjadi, kemudian mencerca orang, memutarbalikkan kenyataan. Itulah sifat egois manusia yang tidak sadar akan berlakunya hukum kesunyataan tentang perubahan.

Terimalah perubahan itu sebagaimana adanya. Perubahan merupakan sesuatu yang wajar. Anak bayi berubah menjadi anak-anak, anak-anak menjadi remaja, remaja menjadi pemuda, pemuda menjadi orang tua, orang tua menjadi orang jompo, lapuk dan akhirnya meninggal. Bodoh bisa menjadi pintar, nakal menjadi baik, kuat menjadi lemah, miskin menjadi kaya, asam menjadi manis, yang mentah menjadi matang, yang cantik menjadi memudar, dan lain sebagainya, semuanya itu merupakan proses alam yang wajar dan alamiah.
Janganlah berlaku kecewa apalagi harus putus asa terhadap perubahan negatif  yang terjadi, begitu pula janganlah berlaku gembira sampai terlena terhadap perubahan positif yang dialami. Pandanglah segala sesuatu sebagaimana adanya. Sehingga tidak harus melekat atau salah memandang, seperti salah dipandang benar, kesakitan tidak diterima, kesenangan begitu dilekati.

Baik perubahan yang positif maupun negatif  harus dicermati, diantisipasi sejak dini, dan dianalisa. Tidak ada orang dapat merubah perubahan, betapapun jeniusnya manusia. Karenanya adalah sesuatu yang mendasar kalau tidak memiliki kesiapan terhadapa perubahan itu. Jika kita sudah siap maka perubahan bukan merupakan persoalan kesenangan, kebahagiaan atau kesakitan dan penderitaan semata, karena itu berarti kita juga telah siap menyatu dengan realitas. Realitas itulah dharma dan mengandung hukum kesunyataan.

Apakah kamu Indra?”,  yang ditanya cepat menjawab, “Bukan, saya bukan Indra?” “Mengapa kamiu disebut si Indra, dulu Indra, sekarang Indra, nanti juga orang bisa menyebut kamu si Indra?” “Memang, saya Indra, saya disebut Indra, dulu sekarang dan juga nanti orang tetap mengenal saya si Indra?” “Lalu siapakah kamu sesungguhnya?” Indra akhirnya meneruskannya dengan bertanya kepada dirinya sendiri, “ Siapakah aku ini?”( Dharmasukha Jo Priastana)

 

 

Siapa yang Online

We have 1 guest online

Dharma Hari Ini

Semua materi di dunia memang untuk dipergunakan oleh manusia, namun bagi yang tidak mengenal puas dan karena kurang bijaksana akan diperbudak oleh materi. (Master Cheng Yen)

SocialTwist Tell-a-Friend