Skip to content
  • bodhidharma
  • bodhidharma
  • bodhidharma
  • bodhidharma
  • bodhidharma
  • bodhidharma
  • bodhidharma
  • bodhidharma
  • bodhidharma
  • bodhidharma
  • bodhidharma
  • bodhidharma
You are here: Home Renungan Kita memetik apa yang kita tanam
Kita memetik apa yang kita tanam
“Hati kecil kita akan mengatakan jika kita benar-benar baik atau tidak.” Orang lain tidak akan mempu mengatakan apakah kita benar-benar baik atau tidak, tetapi hanya diri sendiri yang tahu. Langit dan bumi pun tahu. Kita tidak dapat melarikan diri dari sebab dan akibat. Karena itu, “Kita tidak perlu bertanya apa penyebab dari kemalangan dan keberuntungan kita.”

Jika kita benar-benar ingin mengerti apa sebabnya, kita tidak perlu bertanya pada orang lain. Yang perlu kita lakukan adalah bertanya pada diri sendiri. Kita memetik apa yang kita tanam. Kita sendiri yang menanam sebab dan kita sendiri yang memetik akibatnya. Ada sebuah puisi kuno yang menjelaskan hal ini:

Jika kita ingin tahu apa sebab-sebab pada kehidupan yang lampau, kita hidup menjalani konsekuensi dari sebab-sebab tersebut.

Jika kita ingin tahu seperti apa kehidupan kita yang akan datang, yang harus kita lakukan adalah menelaah apa yang sedang kita kerjakan hari ini.
Beberapa orang mungkin masih meragukan hukum sebab-akibat. Mungkin mereka menemukan beberapa orang yang benar-banar baik namun jatuk ke dalam kesulitan, sementara beberapa orang yang tidak baik, tidak mendapatkan hukuman dan sepertinya memiliki segalanya. Apa yang mereka tidak ketahui adalah cara kerja dari hukum sebab dan akibat.

Mengapa orang-orang baik itu dalam kesulitan? Karena karma buruk mereka pada kehidupan yang lamapu belum habis. Ini seperti membayar sebuah hutang lama! Kemudian mengapa beberapa orang jahat menjalani kehidupan yang baik? Karena tabungan karma baik mereka pada kehidupan yang lampau belum habis. Hukum sebab dan akibat terbagi dalam tiga waktu kehidupan: sekarang, lampau dan yang akan datang. “Tidak ada yang dapat melarikan diri dari hukum sebab dan akibat; hanya waktu yang menentukan kapan akibat tersebut terjadi.” Beberapa tumbuhan menuai buahnya setiap tahun. Jika kita menanam jenis pohon seperti ini di musim semi, semestinya kita dapat menuainya pada musim panas; beberapa karma akan terealisasi pada kehidupan ini. Beberapa pohon akan membutuhkan dua tahun untuk dipetik buahnya; beberapa karma akan membutuhkan waktu dua kehidupan untuk terealisasi. Beberapa pohon mungkin membutuhkan beberapa tahun untuk dipetik buahnya; beberapa karma membutuhkan beberapa kehidupan untuk terealisasi.

Tidak ada ketidaktentuan pada hukum sebab dan akibat; ini hanyalah masalah waktu. Saya hanya menawarkan sebuah nasehat. Orang yang baik jangan frustrasi jika mereka tidak melihat buah-buah dari kebajikan mereka. Beberapa orang yang tidak baik jangan berpikir bahwa mereka beruntung karena tidak tertangkap, bagi mereka waktunya akan tiba. Tidak ada yang dapat menghindar dari hukum sebab akibat.

Sumber: Ven. Master Hsing Yun dalam “Cloud and Water”, An Interpretation of Ch’an Poems, His Lai University Press, USA 2000

Diterjemahkan oleh: Divisi Penterjemah Pusdiklat Buddhis Bodhidharma. Diterbitkan pada majalah Suara Bodhidharma edisi No. 42/Januari 2006/Th. IV
 

Siapa yang Online

We have 1 guest online

Dharma Hari Ini

  1. It is better to have the will to resolve than indulging in day dreaming of wealth; it is better to have peace of mind than believing in fate; it is better to get clear insight of our mind than the use of punishments; it is better to purify one’s mind than giving ineffective aid. (Ven. Master Hsing Yun)
SocialTwist Tell-a-Friend