|
Sifat mulia dari cinta kasih harus direnungkan seperti ini, ”Seseorang yang hanya menaruh perhatian pada kesejahteraan dirinya, tanpa menaruh perhatian pada kesejahteraan orang lain, tidak akan dapat mencapai keberhasilan di dunia ini atau pun kebahagiaan di masa mendatang. Lalu bagaimanakah seseorang yang ingin menolong semua makhluk tetapi tidak memiliki cinta kasih pada dirinya berhasil mencapai Nirvana? Dan bila engkau ingin memimpin semua makhluk ke Nirvana, engkau seharusnya memulai dengan mengharapkan kesejahteraan duniawi bagi mereka di sini sekarang.”
Orang seharusnya merenung, ”Aku tidak dapat memberikan kesejahteraan dan kebahagiaan bagi makhluk lain hanya dengan mengharapkannya. Aku harus melakukan suatu upaya untuk mencapainya.”
Orang seharusya merenung, ”Sekarang aku menyokong mereka dengan meningkatkan kesejahteraan dan kebahagiaan bagi mereka, dan nanti mereka akan menjadi sahabatku dalam Dharma.”
Lalu orang seharusnya merenung, ”Tanpa makhluk-makhluk ini, aku tidak dapat mengumpulkan hal-hal yang diperlukan untuk mencapai penerangan sempurna. Karena mereka merupakan alasan untuk mempraktikkan dan menyempurnakan seluruh kemampuan seorang Buddha, makhluk-makhluk ini bagiku merupakan ladang keuntungan terbesar, landasan yang tiada taranya untuk menanamkan akar-akar yang bermanfaat, dan dengan demikian, merupakan objek akhir dari kemulliaan.”
Jadi seseorang seharusnya membangkitkan suatu kecenderungan yang kuat yang mengarah kepada peningkatan kesejahteraan semua makhluk, dan mengapa cinta kasih terhadap semua makhluk seharusnya dikembangkan? Karena hal itu merupakan landasan dari welas asih. Karena ketika seseorang bergembira dalam mengusahakan kesejahteraan dan kebahagiaan bagi makhluk lain dengan batin yang tidak terikat, maka keinginan untuk melenyapkan kesusahan dan penderitaan mereka menjadi terbentuk secara kuat dan tetap. Dan welas asih merupakan sifat yang sangat unggul dalam Kebuddhaan, merupakan basis, fondasi, akar, kepala, dan pemimpin Kebuddhaan. (Buddha Vacana) |