Skip to content
  • bodhidharma
  • bodhidharma
  • bodhidharma
  • bodhidharma
  • bodhidharma
  • bodhidharma
  • bodhidharma
  • bodhidharma
  • bodhidharma
  • bodhidharma
  • bodhidharma
  • bodhidharma
You are here: Home Renungan Bagaimanakah Aku
Bagaimanakah Aku


Secara harfiah ego berarti “keakuan” dan sangat erat dengan sifat mementingkan diri sendiri yang biasa dikenal dengan sebutan egois. Egoisme adalah paham yang mementingkan diri sendiri. Pentingkah ego? Atau benarkah ego, atau aku itu ada? Buddha-Dharma mengenal istilah Anatta yang berarti tanpa aku. Lalu bagaimanakah dengan diri dan kepribadian manusia itu? Kalau aku itu tidak ada, bagaimanakah manusia itu menjalankan hidupnya?

Benarkah ego mempunyai peranan penting bagi makhluk hidup untuk menghadapi kehidupan ini? Jika mau jujur, jawabannya, ya. Ego yang mempunyai peranan penting bagi kehidupan manusia ini, dapat kita sebut saja dengan istilah aku-fungsional. Sedangkan yang dimaksud oleh Buddha dengan Anatta adalah tidak ada ego-aku pada diri manusia secara substabsial atau hakekatnya.

Manusia ketika lahir diberi nama, kemudian anak tumbuh besar dengan memakai nama itu, dan akhirnya identik dengan nama tersebut. Padahal, nama hanyalah sebagai fungsi untuk memudahkan maklhuk hidup bersosialisasi. Begitu pula dengan dengan aku. Aku itu bersifat fungsional sama halnya dengan nama, namun pada hakekatnya tidak ada (anatta).

Bila kita lihat makhluk yang bernama “hewan”, mereka selalu mempertahankan diri untuk kelangsungan hidupnya, mereka seakan tidak peduli dengan kehidupan yang lain. Prinsipnya, jika lapar saya akan mencari makan tanpa harus tahu bagaimana menderitanya makhluk yang dimakan, seperti burung elang yang menyambar bebek, musang memangsa ayam, ular mematuk kelinci, harimau berburu rusa, atau burung pelican menangkap ikan. Apa ego kita harus seperti hewan ini?

Tetapi bagi hewan yang terdidik, mungkin ada perbedaan. Hewan seperti ini, misalnya anjing, monyet, bisa mengorbankan jiwanya demi menolong tuannya, jika mereka menyadari bahwa tuannya dalam keadaan bahaya. Adakah ego dalam makhluk seperti ini? Bila ada, adakah perbedaanya dengan hewan di atas dengan yang tidak terdidik?

Tentu saja manusia berbeda dengan hewan, baik hewan yang terdidik maupun yang tidak. Manusia memiliki kesadaran moral, mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk, dan memiliki nilai intelektual lebih tinggi dibandingkan hewan. Manusia memiliki agama yang selalu mengajarkan ruginya memiliki ego yang mementingkan diri sendiri. Oleh karena itu, agama mengajarkan manusia untuk mengerti bagaimana membedakan taraf ego dan mengikis keegoannya.

Sebagai gambaran bagimana ego itu tidak baik dan bisa menipu adalah ketika manusia berhasil melakukan sesuatu dengan berbagai cara, dan jika disanjung dan dipuji, hatinya senang dan bersahabat dengan orang yang memujinya, tanpa melihat dan merenungkan perbuatan yang merugikan dan membuat orang lain menderita. Padahal pujian itu bisa saja tidak benar dan kesenangan atas pujian itu sebenarnya hanyalah ilusi. Khayal.

Begitu terjadi sesuatu di luar keinginannya, egonya muncul, bahwa saya tidak menerima perlakuan demikian, saya tidak menerima perlakuan ini, walaupun kata-kata maaf telah berhamburan, tapi dendam dan marah masih tetap ada. Orang ini tenggelam dan terikat dalam keegoannya yang berkenaan dengan harga diri.

Ego memang dimiliki oleh setiap makhluk hidup, orang kaya, orang miskin, orang sehat, orang sakit, orang tua, orang muda, siapa pun dia tanpa pandang bulu. Kenapa harus ada ego pada diri manusia? Karena dengan ego kehidupan manusia dapat berfungsi. Namun, bila tindakannya tanpa ada ego, maka di dunia ini akan tidak ada yang namanya perbedaan, perselisihan, peperangan.

Berarti jika tindakan berdasar pada tidak ada ego maka tidak ada peperangan. Bisakah kita bertindak dengan tanpa ego itu? Bila tidak, ya… paling minimal bertindaklah dengan ego-fungsional yang mendatangkan kebaikan, seperti hewan yang terdidik itu.

 

Siapa yang Online

We have 1 guest online

Dharma Hari Ini

Jika Anda menderita dan membuat orang yang Anda cintai menderita, tidak ada yang dapat membenarkan keinginan Anda.  (Thich Nhat Hanh)

 

SocialTwist Tell-a-Friend