Skip to content
  • bodhidharma
  • bodhidharma
  • bodhidharma
  • bodhidharma
  • bodhidharma
You are here: Home Renungan
Bodhidharma
Cinta Kasih


Sifat mulia dari cinta kasih harus direnungkan seperti ini, ”Seseorang yang hanya menaruh perhatian pada kesejahteraan dirinya, tanpa menaruh perhatian pada kesejahteraan orang lain, tidak akan dapat mencapai keberhasilan di dunia ini atau pun kebahagiaan di masa mendatang. Lalu bagaimanakah seseorang yang ingin menolong semua makhluk tetapi tidak memiliki cinta kasih pada dirinya berhasil mencapai Nirvana? Dan bila engkau ingin memimpin semua makhluk ke Nirvana, engkau seharusnya memulai dengan mengharapkan kesejahteraan duniawi bagi mereka di sini sekarang.”

Orang seharusnya merenung, ”Aku tidak dapat memberikan kesejahteraan dan kebahagiaan bagi makhluk lain hanya dengan mengharapkannya. Aku harus melakukan suatu upaya untuk mencapainya.”

Read more...
 
Aku Bisa Berubah

Banyak orang berpikir tentang siapakah aku sesungguhnya? Mengapa aku dilahirkan, kalau di dalam kelahiran ini banyak kendala yang harus dihadapi? Mengapa aku dilahirkan di dalam keluarga yang setiap hari ayah dan ibu terus bertengkar? Mengapa aku dilahirkan tidak menjadi orang yang cakap? Mengapa aku dilahirkan di dalam keluarga yang untuk makan tiga hari pun harus bekerja dengan keras?

Sepertinya kata mengapa yang banyak terdapat dalam lagu-lagu pop Indonesia, pertanyaan yang dimulai kata mengapa itu masih terus bisa dilanjutkan tanpa akhir. Mengapa aku dilahirkan tidak memiliki otak yang pintar? Mengapa aku dilahirkan dalam wajah yang tidak cantik? Mengapa aku dilahirkan di dalam sebuah daerah yang penduduknya tidak mengenal sopan santun? Mengapa aku dilahirkan dan tidak memiliki kebahagiaan? Dan masih banyak kata mengapa yang belum dapat dan tanpa terjawab.

Kalau manusia boleh memilih, sebelum memasuki dunia ini, semua orang pasti memilih hal-hal yang bagus misalnya memiliki wajah ganteng dan manis, mempunyai otak yang cemerlang, memiliki kebijaksanaan, bisa melakukan apa yang tidak bisa dilakukan oleh orang lain, memiliki keluarga yang harmonis dan rukun, memiliki keluarga yang dapat membimbing, memiliki harta yang berlimpah, lincah, supel, disayangi oleh teman, disegani oleh lawan, dan lain sebagainya.

Read more...
 
Hati Manusia Ibarat Timbangan
Timbangan

Buddhistzone.com - Pada jaman dulu, di sebuah kota kecil di Tiongkok Utara terdapat dua toko yang menjual beras, toko yang satu bernama Yong Chang, yang satunya lagi bernama Feng Yu. Pemilik tua toko beras Feng Yu melihat saat itu situasi sedang kacau oleh peperangan tidak mudah untuk berdagang, lalu memikirkan suatu rencana yang bisa mendatangkan keuntungan yang lebih besar.

Hari itu, dia mengundang ahli pembuat timbangan ke rumahnya, dengan sembunyi-sembunyi dia berkata kepada ahli pembuat timbangan itu, “Tolong Anda buatkan satu timbangan yang ukuran beratnya 1kg sama dengan 15,5 kati, nanti ongkos pembuatannya saya tambah seratus tael.”
(1 kg yang sebenarnya adalah 16 kati)

Demi untuk mendapatkan uang seratus tael lebih banyak, dia telah mengabaikan moralnya, dan segera menyanggupi pemilik toko tua itu. Setelah selesai berpesan, pemilik toko itu pun meninggalkan ahli timbangan itu seorang diri di halaman rumahnya untuk membuat timbangan, dia sendiri berjalan ke dalam toko mengurus dagangannya.

Read more...
 
Bagaimanakah Aku


Secara harfiah ego berarti “keakuan” dan sangat erat dengan sifat mementingkan diri sendiri yang biasa dikenal dengan sebutan egois. Egoisme adalah paham yang mementingkan diri sendiri. Pentingkah ego? Atau benarkah ego, atau aku itu ada? Buddha-Dharma mengenal istilah Anatta yang berarti tanpa aku. Lalu bagaimanakah dengan diri dan kepribadian manusia itu? Kalau aku itu tidak ada, bagaimanakah manusia itu menjalankan hidupnya?

Benarkah ego mempunyai peranan penting bagi makhluk hidup untuk menghadapi kehidupan ini? Jika mau jujur, jawabannya, ya. Ego yang mempunyai peranan penting bagi kehidupan manusia ini, dapat kita sebut saja dengan istilah aku-fungsional. Sedangkan yang dimaksud oleh Buddha dengan Anatta adalah tidak ada ego-aku pada diri manusia secara substabsial atau hakekatnya.

Manusia ketika lahir diberi nama, kemudian anak tumbuh besar dengan memakai nama itu, dan akhirnya identik dengan nama tersebut. Padahal, nama hanyalah sebagai fungsi untuk memudahkan maklhuk hidup bersosialisasi. Begitu pula dengan dengan aku. Aku itu bersifat fungsional sama halnya dengan nama, namun pada hakekatnya tidak ada (anatta).

Read more...
 
KETERTIBAN DALAM KEHIDUPAN

Di setiap aspek kehidupan sudah barang tentu terdapat sebuah aturan yang mengatur. Baik di lingkungan keluarga, masyarakat, sekolah, atau pun di bidang sosial, politik maupun agama. Kenapa? Karena dengan adanya aturan akan menciptakan ketertiban dan membuat keadaan menjadi lebih tenang, damai, aman, dan sentosa. Bahkan, dengan  adanya ketertiban itulah terselenggaralah kehidupan di dunia dan alam semesta ini.

Aturan, apa sih aturan itu?? Aturan merupakan sebuah kata yang mempunyai makna sesuatu yang harus dipatuhi. Aturan juga disebut dengan norma. Aturan bisa diterapakan dalam kehidupan keluarga agar tercipta kehidupan rumah tangga yang berjalan tentram, indah, bersih, dan bahagia. Aturan juga terdapat pada Negara yang disebut dengan undang-undang.

Dalam kehidupan masyarakat, sesuatu yang bersifat mengatur disebut hukum. Dengan adanya hukum itulah terjadi ketertiban dan ketentraman dalam kehidupan masyarakat. Bila hukum tidak ada atau tidak berfungsi, maka akan terjadi hukum rimba. Siapa kuat dialah yang berkuasa. Tentunya, ini akan berbahaya. Bahaya dari hukum rimba itu adalah anarki, dan kekacauan sosial akan terjadi dimana-mana. Sedikit lebih rendah dari norma, hukum dalam masyarakat juga berlaku sebagai norma sopan-santun yang mencerminkan etika seseorang.

Read more...
 
<< Start < Prev 1 2 Next > End >>

Page 1 of 2

Siapa yang Online

We have 3 guests online

Dharma Hari Ini

SocialTwist Tell-a-Friend