|
Dahulu kala di Tiongkok ada seorang pemuda bernama Chin Po-wan. Namanya sangat sesuai dengan keadaannya. Chin berarti ‘emas’, dan Po-wan artinya ‘banyak’, keluarganya memiliki koin emas yang tak terhitung banyaknya.
Karena namanya keberuntungan keluarganya, Po-wan berpikir dia akan selalu kaya raya sehingga ia menghambur-hamburkan uangnya, walaupun itu bukan untuk dirinya sendiri. Dia sangat iba melihat orang miskin yang memerlukan bantuannya, dia tidak pernah mampu menolak untuk menolong mereka. Orang miskin cukup menadahkan tangannya, dan Po-wan akan memberikan emas. Jika dia mendengar seorang janda dengan anak-anaknya kelaparan, dia menjamin bahwa mereka akan mendapat tempat untuk tinggal dan makanan sepanjang hidupnya. Po-wan memberi dengan tulus kepada mereka yang miskin dan papa.
Namun akhirnya, keberuntungan Po-wan yang luar biasa pun tak cukup, dia memberi terlalu banyak sehingga dirinya sendiri menjadi miskin. Saat dia hanya memiliki sedikit makanan, dia masih terus memberi mereka makanan walau hanya sedikit. Suatu hari ketika dia berbagi semangkuk nasi dengan seorang pengemis, tiba-tiba dia merasa sangat sedih karena dia hanya memiliki sedikit nasi untuk berbagi.
“Mengapa saya begitu miskin?” tanyanya pada diri sendiri. “Saya tidak pernah melakukan sesuatu yang merugikan orang lain, dan saya tidak pernah menghabiskan banyak uang untuk kepentinganku sendiri. Bagaimana semua ini dapat terjadi, saya tidak dapat memberi banyak pada pengemis itu, hanya sesuap nasi saja?”
Pertanyaan ini mengahantuinya siang dan malam, dan masih belum terjawab. Akhirnya ia menemukan sebuah gagasan. Dia akan pergi untuk menemui Kuan Yin, Bodhisattva yang penuh welas asih dan kebaikan bagi mereka yang membutuhkan bantuan, khususnya mereka yang dalam kesulitan. “Bodhisattva Kuan Yin mengetahui masa lampau dan masa depan.” Pikirnya. “Pasti beliau dapat menjawab pertanyaan saya.”
Lalu Chin Po-wan pergi ke laut selatan di mana Bodhisattva Kuan Yin berdiam. Dia berjalan melewati banyak daerah yang aneh, hingga suatu hari dia tiba di sebuah sungai yang amat deras. Dia berdiri di tepi sungai memikirkan bagaimana mungkin dia dapat menyebranginya. Ketika sedang asyik berpikir, terdengar suara gaduh dari sebuah jurang di atas tempatnya berdiri.
“Chin Po-Wan,” terdengar suara tadi, ”Bila kamu pergi ke laut selatan, maukah kamu menanyakan masalah saya kepada Kuan Yin?”
Po-wan yang tidak pernah menolak apapun dalam hidupnya. Di samping itu dia tahu Bodhisattva Kuan Yin memperbolehkan setiap orang yang datang padanya mengajukan tiga pertanyaan, dan dia memiliki satu pertanyaan. Lalu dia pun menjawab, ”Ya, ya, baiklah saya akan menanyakannya.”
Ketika ia membalikkan badan untuk melihat darimana suara itu berasal, terlihatlah pemandangan yang sangat mengejutkan di atas sana dia melihat seekor ular yang sangat besar yang badannya sebesar tiang vihara, dan panjangnya pun 2 kali tiang vihara. Po-wan sangat ketakutan, dan dia bersyukur karena dia telah segera menyetujui permintaanya.
“Tanyakan kepada beliau mengapa saya masih belum menjadi seekor naga, walaupun saya sudah melatih diri dan banyak berbuat kebaikan selama ribuan tahun,” kata ular besar itu.
“Oh, saya pasti akan menanyakannya!” kata Po-wan gugup, sambil berharap reptil besar itu masih melatih diri, berbuat kebaikan dan tidak memangsa dia.
“Andaikan saya dapat melewati sungai ini, saya tidak akan bertemu Kuan Yin kecuali saya dapat sampai di seberang, dan sampai sekarang saya masih tidak tahu caranya.”
“Oh, itu bukan masalah lompatlah ke badan saya dan saya akan menyeberangkanmu.” Jawab ular itu.
Po-wan memanjat punggung besar yang bersisik itu dan tidak lama kemudian, dia telah melewati sungai itu. Setelah mengucapkan terima kasih dan selamat tinggal, dia kembali melanjutkan perjalanannya menuju Laut Selatan.
Dia berjalan sangat jauh hari itu dan mulai merasa lapar, untungnya dia tiba di sebuah penginapan dimana ia bisa membeli semangkuk nasi. Pada saat menunggu makanan datang, Po-wan telibat percakapan dengan pemilik penginapan. Po-wan bercerita tentang seekor ular besar yang menyeberangkan dia, dan mengetahui bahwa makhluk itu cukup di kenal oleh masyarakat sekitarnya. Ular tersebut disebut ular batu karang, dan dikenal kebaikannya karena selalu menghalau penjahat yang ingin masuk ke daerah ini. Ketika Po-wan menceritakn tujuan perjalanannya, tanpa sadar dia mengatakan bahwa dia dalam perjalanan menemui Bodhisattva Kuan Yin.
“Oh,” kata pemilik penginapan. “Saya akan sangat gembira jika kamu mau menanyakan kepada beliau sebuah pertanyaan untuk saya. Saya mempunyai anak perempuan cantik, baik hati, dan pintar. Walaupun dia telah berumur 20, tapi dia tidak pernah bersuara selama 20 tahun, maukah kamu menanyakan kepada sang Bodhisattva mengapa dia tidak dapat bebicara?”
Po-wan tidak mampu menolak permintaan itu, dan berkata ”Jangan khawatir, saya pasti menanyakan masalah putrimu dan saya yakin semuanya akan baik-baik saja.” Setelah itu Po-wan berkata pada dirinya sendiri, saya diperbolehkan mengajukan tiga pertanyaan dan saya hanya butuh satu.
Po-wan melanjutkan perjalanannya dan ketika senja tiba, dia kembali lapar dan merasa sangat letih. Disana tidak ada penginapan. Melihat ada rumah yang sangat besar, dia mengetuk pintu dan meminta izin untuk menginap. Pemilik rumah menyambutnya dengan baik, memberi dia makanan dan minuman, dan menunjukkannya sebuah kamar tamu yang nyaman. Po-wan bangun keesokan harinya, merasa segar dan siap melanjutkan perjalanan.
“Kamu hendak kemana?’ Tanya pemilik rumah “Oh, saya hendak pergi ke Laut selatan” jawab Po-wan.
“Kalau kamu pergi ke Laut Selatan, maukah kamu menanyakan kepada Bodhisattva Kuan Yin tentang masalah saya?” Saya telah 20 tinggal disini, dan saya sudah merawat kebun saya dengan baiknya, kenapa kebun saya tidak dapat berbunga dan berbuah, tak ada madu yang dapat dikumpulkan, sehingga tidak ada burung datang berkicau. Kebun saya seperti tempat yang sunyi, saya akan sangat senang bila anda mau menanyakan masalah ini.”
“Saya akan menanyakannya kepada Bodhisattva Kuan Yin” kata Po-Wan. Dia segera melanjutkan perjalanannya. Dia benar-benar ingin menolong laki-laki itu, di samping itu Bodhisattva Kuan Yin memperbolehkan setiap orang mengajukan tiga pertanyaan, satu untuk diriku, satu untuk ular itu, satu untuk pemilik penginapan dan satu untuk laki-laki dengan kebunnya. “Uh…oh…” pikirnya. Diapun berhenti menghitung pertanyaan dengan jarinya. Ya, dia menyadari bahwa pertanyaannya sekarang kelebihan satu.
Sungguh sulit! Ada 4 pertanyaan yang harus ditanyakan. Satu diantaranya akan tidak terjawab, tapi yang mana? Bila dia tak menanyakan pertanyaannya sendiri, perjalanannya akan sia-sia. Tapi bila dia tak menanyakan pertanyaan ular besar, sang pemilik penginapan atau laki-laki yang telah berbaik hati memberi penginapan dan menjamunya, bukan hanya salah satu dari mereka yang akan merasa sangat kecewa, tapi dia juga telah mengingkari janjinya sendiri. Sambil berjalan dia terus memikirkan masalah itu.
Akhirnya dia memutuskan, “Saya telah berjanji, maka saya harus menepatinya, selain itu, jika saya tidak menanyakan pertanyaan saya, perjalanan ini tidaklah sia-sia, karena saya telah menolong ketiga orang ini memecahkan masalah mereka.”
Gembira akan keputusannya, Po-wan tiba di Laut Selatan. Dia bertanya pada masyarakat setempat dan akhirnya sampai di hadapan Bodhisattva Kuan Yin. Sang Bodhisattva sangat cantik dan memancarkan kebaikan yang membuat Po-Wan merasa rendah diri. Dia memberi hormat dan dengan sopan menanyakan pertanyaan.
“Ular batu karang,” dia mulai bertanya, ”Dia telah lama melatih diri dan berbuat kebajikan selama ribuan tahun, mengapa dia belum dapat menjadi seekor naga?”, “Di atas kepala ular ada 7 buah mutiara, jika 6 buah disingkirkan dia akan berubah menjadi seekor naga” jawab Bodhisattva.
“Terima kasih Bodhisattva, pertanyaan kedua saya, “Ada pemilik penginapan yang memiliki anak perempuan yang tidak pernah mengeluarkan suara selama dua puluh tahun, mengapa?”
“Hal ini terjadi karena kehidupan masa lampaunya, dan ini merupakan karmanya tidak dapat berbicara sampai dia menemukan laki-laki yang menjadi suaminya.”
“Terima kasih, Bodhisattva,” jawab Po-wan,” Sekarang pertanyaan terakhir saya, ada seorang yang kaya raya yang menyambut saya di rumahanya. Dia memiliki sebuah kebun yang telah dirawat dengan sebaik-baiknya selama puluhan tahun, tetapi tidak ada tanaman atau pohon yang dapat tumbuh atau berbuah, mengapa demikian?”
“Disana ada 7 tempat bunga yang berisi emas dan perak yang terkubur,” jawab Bodhisattva Kuan Yin, “Jika dia menyingkirkannya dan memberikan separuh kekayaannya kepada orang lain, kebunnya pasti berbunga dan berbuah sangat banyak.”
Dengan penuh rasa hormat Po-wan mengucapkan terima kasih kepada Bodhisattva Kuan Yin, Bodhisattva memberikan senyum lembut yang memberikan kegembiraan dihati Po-wan. Lalu Po-wan duduk di bawah pohon dan menulis apa yang Bodhisattva Kuan Yin katakan agar tidak ada yang terlewatkan. Po-wan melanjutkan perjalannan pulang.
Pertama kali Po Wan berhenti di rumah orang kaya, dan menyampaikan apa yan dikatakan Bodhisattva Kuan Yin tentang emas dan perak yang ada dikebunnya. Orang kaya itu sangat senang mengetahui kebunnya akan menjadi kebun yang sangat indah. Akhirnya dia memberikan separuh hartannya kepada Po-wan.
Selanjutnya Po-wan ke kota dimana pemilik penginapan melihat Po-wan dari jendela dan tiba-tiba memanggil, “Po-wan kamu telah kembali dari Laut Selatan. Apa yang Bodhisattva Kuan Yin katakan kepadamu?”
Pemilik penginapan sangat gembira mendengar suara anaknya. Akhirnya dua anak muda itu saling jatuh cinta pada pandangan pertama, dan pemilik penginapan meminta Po-wan untuk menikahi anaknya.
Kemudian Po-wan pergi ke sungai yang deras untuk menyampaikan pesan dari Bodhisattva Kuan Yin. Ular tersebut memindahkan 6 mutiara dan memberikan semuanya kepada Po-wan. Tidak lama kemudian ular tersebut berubah menjadi seekor naga yang bagus, dan mutiara yang tertinggal di kepalanya mulai memancarkan cahaya indah yang membuat daerah tersebut menjadi daerah yang permai.
Itulah Po-wan, melalui kebaikannya dan kedermawannannya, akhirnya dia menikahi seorang wanita cantik dan menjadi kaya kembali sekaya namanya.
Judul Asli: The Living Kuan Yin |