|
ParinirvanaNya Bhikkhu Ashin Jinarakkhita meninggalkan cerita yang tak ada habisnya. Begitulah mungkin bila orang besar itu meninggal. Banyak kisah di balik parinirvanaNya. Seperti peristiwa yang mendahuluiNya yang bisa menjadi pertanda. Peristiwa-peristiwa yang bila disimak dengan sungguh-sungguh membuktikan kebesaran Bhikkhu Ashin sebagai bhikkhu pertama Indonesia.
Karena itu tidak mustahil riwayat hidup bhikkhu kelahiran Bogor ini akan menjadi legenda yang dicerna tak habis-habisnya oleh cucu murid yang ditinggalkanNya. Dan pesanNya untuk selalu memperjuangkan kebenaran akan selalu diingat oleh para penerusNya. Dari sosok pertapa Gunung Gede yang bijaksana ini selalu akan muncul cerita-cerita dan kisah yang memperlihatkan kebesaranNya sebagai pejuang Dharma.
Banyak jasa yang telah dilakukan selama perjuanganNya menebar benih Dharma di Nusantara membangkitkan kembali Agama Buddha di Indonesia. WawasanNya yang luas dan jauh ke depan, seperti konsep-konsep dan pemikiranNya bagi pengembangan Agama Buddha di Indonesia merupakan sebagian warisan yang tak ternilai yang masih perlu digali dan dikembangkan oleh penerusNya, disamping sebagian warisan lainnya seperti mendirikan dan meninggalkan berbagai jenis organisasi Buddhis berskala nasional.
Kedua jenis warisan yang penuh wawasan jauh itulah yang seharusnya pantas diburu, digali, dikembangkan oleh para penerusNya. Warisan pengejawantahan dari permata Dharma yang digali oleh Bhikkhu Ashin dari dalam bumi Nusantara sendiri. Lihatlah bagaimana bhikkhu yang sejak muda aktif di Theosofi amat memahami ungkapan pujangga Buddhis Mpu Tantular “Bhinneka Tunggal Ika”, yang menjadi semboyan Negara Republik Indonesia itu, bagi pengembangan Agama Buddha dan sikap beragama yang pluralis-inklusif. Pada tingkat kehidupan antar agama, konsep dan sikap beragama seperti ini nyatanya amat didengungkan dan ramai dibicarakan di tengah-tengah konflik Indonesia saat ini.
Jauh ketika arus globalisasi belum menerpa Indonesia dengan begitu derasnya, bhikkhu yang kosmopolitan ini justru telah mengajak rekan-rekanNya untuk memperhatikan kearifan lokal (local-genius) yakni menghargai kekayaan kultur-religius yang ada di Nusantara, ketimbang jatuh di dalam kesempitan pandangan dalam fundamentalisme-sekterian yang hanya akan melahirkan kekerasan dalam beragama. Bhikkhu yang semula bernama Tee Boan An ini justru amat menyadari akan persoalan psikologi-agama yang akan dihadapi umatNya di dalam menghadapi arus perubahan jaman dengan meletakkan jawabannya pada proses indigenisasi dalam Buddhadharma.
Karena itu, pantas bila tokoh ini, mendapat julukan Sesepuh Umat Buddha Indonesia, Pelopor Kebangkitan kembali Agama Buddha Indonesia. Secara konsep maupun organisasi, Bhikkhu Ashin telah meletakkan dasar-dasarnya bagi kendaraan Buddha (Buddhayana) untuk masuk dan tinggal di rumah Dharma Indonesia. Begitu pula banyak peristiwa keagamaan Buddha di tanah air yang bermakna historis yang tak lepas dariNya. Sejarah Agama Buddha di Indonesia tidak mungkin ada tanpa sosok bhikkhu yang murah senyum ini. Dan namaNya akan selalu tertera di dalam setiap pelajaran buku Agama Buddha, dieja oleh para siswa sekolah dasar, dihafal oleh para sisiwa SLTP, dan memberi inspirasi yang tak habis-habisnya bagi ksatria-ksatria Dharma.
HUT Terakhir
Tanggal 23 Januari 2002 adalah peringatan hari ulang tahunNya yang terakhir. Entah mengapa, seperti yang terukir dalam kue ulang tahun, peringatan HUT Beliau yang diadakan di Vihara Sakyawaranam, Pacet, Cianjur, Jawa Barat itu adalah merayakan HUT-Nya yang ke-82, padahal dalam buku yang dikeluarkan ketika Beliau parinirvana, tahun kelahiran Beliau itu ditulis pada 23 Januari 1923. Tetapi lepas dari masalah tahun kelahiran tersebut, sesungguhnya peringatan HUT-Nya yang terakhir itu mengandung keistimewaan dan memiliki pertanda sendiri.
Seperti ada firasat yang sangat begitu berarti dan menentukan dari kehidupan Bhikkhu Ashin Jinarakkhita, adalah Bhiksu Dharmasagaro, Maha Nayaka Sangha Mahayana Indonesia yang merasakan hal itu. Firasat tersebut menjadikan murid Bhikkhu Ashin ini mengkomando semua murid-muridNya yang tergabung dalam Sangha Mahayana Indonesia untuk berkumpul dan menghadiri peringatan HUT Guru yang sangat dicintaiNya. Tampaknmya bukan saja garis silsilah yang menghubungkan Bhiksu Dharmasagaro dengan Bhikkhu Ashin Jinarakkhita, juga pertalian batin antara murid dan guru ini begitu kuatnya.
Meskipun secara organisasi, Bhiksu Dharmasagaro adalah Maha Nayaka Sangha Mahayana Indonesia yang tidak berada di bawah naungan Sangha Agung Indonesia, dimana Bhikkhu Ashin sebagai Maha NayakaNya, tetapi jalur silsilah keguruan itu tidak memisahkan atau memutuskan kedekatan di antara mereka sebagai guru dan murid. Masa-masa manis sebagai murid di bawah asuhan dan bimbingan pelatihan dari Bhante Ashin adalah masa-masa pengembangan mental dan spiritualitasNya yang tetap jauh membekas dalam dan mengukuhkan ikatan pertalian silsilah perguruan di antara mereka.
Dibalik titahNya kepada para murid-muridNya untuk berkumpul di Pacet pada tanggal 23 Januari 2002 itu, Bhiksu Dharmasagaro mungkin memperoleh firasat bahwa inilah peringatan hari ulang tahun terakhir guruNya. Apalagi itu dirayakan di Vihara Sakyawanaram, Pacet, tempat sederhana yang sangat disukai Bhikkhu Ashin, dan bahkan menjadi tempat menetapNya. Bagi Bhiksu Dharmasagaro sendiri, Vihara Sakyawanaram mungkin juga meninggalkan kesan yang mendalam bagiNya, khususnya dalam pertalian diriNya dengan sang pembimbing spiritualNya, Bhikkhu Ashin Jinarakkhita.
Para murid-muridNya pun datang berkumpul, hampir tidak ada satupun yang tidak hadir. Disamping sebagai suatu persembahan atau kado ulang tahun yang amat pantas bagi guruNya dengan menghadirkan segenap murid-muridNya, Bhiksu Dharmasagaro seakan hendak memperlihatkan kepada guruNya bahwa garis silsilah perguruan akan tetap terus menyambung, tetap turun menurun bercucu dan bercicit.
Permata Air Mata
Dalam kesempatan peringatan HUT Bhikkhu Ashin yang penuh dengan suasana hening dan haru seakan mengandung makna yang amat dalam, Bhiksu Dharmasagaro memperkenankan muridNya, Bhiksu Vidya Sasana untuk memberikan kata sambutan bagi ulang tahun kakek guruNya. Anehnya, di antara para bhiksu yang hadir saat itu yang semuanya mengenakan jubah kuning, entah mengapa, bhiksu satu yang masih muda ini, Bhiksu Vidya Sasana justru datang dengan mengenakan jubah berwarna hitam. Warna jubah yang kelak dikenakan oleh para Bhiksu Mahayana pada hari-hari penyempurnaan jenazah Bhikkhu Ashin.
Dalam sambutannya, Bhiksu Vidya Sasana mengungkapkan kembali ucapan Bhikkhu Ashin yang pernah didengarnya dan selalu membekas di hatinya, suatu ucapan yang memperlihatkan nilai luhur dari kepribadian Bhikkhu Ashin. Di hadapan para anggota Sangha dan umat yang hadir, Bhiksu Vidya Sasana mengingatkan kembali ucapan kakek-gurunya itu. “Kita harus berani berkata benar, bila itu benar. Dan berkata salah untuk yang tidak benar.” Seketika anggota Sangha yang hadir saat itu terdiam, seolah suara itu keluar dari Bhikkhu Ashin sendiri, yang memperlihatkan sosok kepribadian Bhikkhu Ashin yang sebenarnya, pribadi yang suka akan kebenaran, berjuang demi kebenaran, dan emoh kepada kesalahan atau ketidak-benaran.
Selepas ungkapan itu dilontarkan, suasana menjadi senyap dan hening. Rasa haru pun tak kuasa untuk tidak menyelinap di antara keheningan Lembah Sakyawanaram, apalagi ketika Maha Bhikkhu Ashin menitikkan airmata sesaat setelah mendengar ucapan itu. Ucapan yang pernah dilontarkanNya sendiri disaat-saat ia mengalami fitnahan, cobaan, perlakuan tidak adil, kekerasan, dimarginalisasikan, yang terjadi pada saat peringatan HUT-Nya beberapa tahun lalu. Seperti diketahui peringatan HUT Bhikkhu Ashin pada tahun 1996 yang diadakan di Jakarta Hilton Convention Center pada detik-detik terakhir ijinnya tidak dikeluarkan, padahal umat dari berbagai daerah telah memadati Balai Sidang itu dan berhamparan di Parkir Timur Senayan di bawah sengatan terik sinar matahari. Begitu ditakutkankah, tokoh agama yang penuh cinta kasih ini?
Kini ucapan itu mengemuka kembali. UcapanNya yang terlontar disaat-saat susah yang ternyata tetap diingat dan terus diperjuangkan oleh murid-muridNya, oleh murid dari muridNya, dan oleh murid dari murid dari muridNya. Maka setelah mendengar ucapanNya itu, air mata orang tua itu pun keluar menetes perlahan, itulah air mata kebahagiaan yang sukar dilukiskan, hanya air mata itulah yang bisa mengungkapkan dan bercerita. Air mata saripati perjuangan, kebijaksanaan, kasih sayang orang tua sesepuh Umat Buddha Indonesia.
Hanya melalui permata air mata itulah, orang tua itu membalas tekad perjuangan yang akan terus dilanjutkan muridNya. Air mata itulah, permata tak ternilai, bekal bagi para penerusNya didalam menegakkan panji Buddhis di Indonesia, panji Dharma yang mengibarkan kebenaran. Air mata yang tumpah di tanah parahyangan, bumi kelahiranNya juga sebagai tanda keberkahanNya bagi kemajuan Agama Buddha di Indonesia.
Sesepuh Sangha di Indonesia
Sebagai pelopor jubah kuning, di senja usiaNya yang dirayakan berusia 82 tahun itu, maka tiada kebahagiaan luar biasa yang diperolehnya selain dikelilingi oleh segenap murid-muridNya dan mengetahui para muridNya akan tetap meneruskan nilai kebenaran yang telah dipertahankan dan diperjuangkanNya. Disamping itu Beliau mengetahui bahwa segenap murid-muridNya juga selalu dapat bersatu dan mengerjakan tugas-tugas Dharma di dalam kebersamaan.
Di hari lahir orang tua yang telah Maha Sesepuh ini, Beliaupun masih sempat mengetahui dan menerima laporan bahwa Sangha Agung Indonesia, organisasi bagi pejalan kesucian, yang menjadi cikal bakal organisasi Sangha lainnya telah sukses mengadakan Maha Samaya-Nya yang diadakan pada tanggal 20-23 Januari 2002. Terasa tuntaslah ia menghantar para murid-muridNya ke pintu gerbang perjuangan, sebelum dia sendiri pada akhirNya berlalu menyelesaikan tugas-tugas kesempurnaanNya di dunia ini.
Sebagai bhikkhu pertama di Indonesia, maka hampir bisa dipastikan tidak ada anggota Sangha di Indonesia ini yang bila diusut-usut secara silsilah keguruan, tidak memiliki pertalian denganNya. Seperti misalnya Dharmasagaro Mahasthavira yang mendirikan Sangha Mahayana Indonesia dan melahirkan murid-muridnya, atau Almarhum Girirakkhito Mahathera, Maha Nayaka Sangha Theravada Indonesia yang juga melahirkan murid-muridNya. Tidak bisa disangkal, kedua tokoh utama dari Sangha ini adalah murid-murid dari Bhikkhu Ashin Jinarakkhita.
Karena itulah, keberadaan Sangha di Indonesia yang kini tergabung dalam KASI (Konferensi Agung Sangha Indonesia) pun menempatkan Bhikkhu Ashin pada tempat yang terhormat dan istimewa, sebagai Dewan Sesepuh KASI. Tetapi lebih dari itu, dalam pertaliannya dengan KASI ini, di samping Beliau ditempatkan pada tempat yang terhormat, orang-yang-dituai, suatu keistimewaan lainnya justru terjadi pada detik-detik terakhir hidupNya, yakni parinirvanaNya sang pelopor disaat para anggota Sangha itu berkumpul akan mengadakan Maha Samaya (Sidang Sangha)-Nya yang pertama.
Berkumpulnya para anggota Sangha memang sesuatu yang direncanakan karena mereka akan mengadakan Maha Samaya. Tetapi parinirvana Bhikkhu Ashin di saat para anggota Sangha itu berkumpul, tentunya mengandung isyarat dan makna yang dalam. Setiap anggota Sangha yang di Indonesia, kapan pun tidak mungkin dipisahkan dari keberadaan Maha Sesepuh Umat Buddha Indonesia ini. Ko-insidensi peristiwa ini menjadi pertanda yang semakin mempertegas dan nyata bahwa keberadaan Sangha di Indonesia tidak bisa dipisahkan dari keberadaan Maha Nayaka Ashin Jinarakkhita, Maha Sesepuh Umat Buddha Indonesia.
Berada Selalu
Bhikkhu Ashin telah meninggalkan kita semua. JasadNya telah diperabukan di Krematorium Bodhisattva, Lempasing, Bandar Lampung, sesuai pesan dalam wasiatNya. Sebelumnya selama seminggu lebih, jenazah Beliau disemayamkan di Vihara Ekayana Graha, Jakarta dengan dihadiri ribuan umat dari berbagai daerah, dari berbagai majelis dan sekte, para tokoh agama, serta para pejabat tinggi Indonesia. Di antaranya Wakil Presiden Hamzah Haz, Ketua DPR Akbar Tanjung, Menteri Agama, dan mantan Presiden Abdurrahman Wahid, dan lain-lainnya yang datang memberikan penghormatan terakhir kepada salah satu putra terbaik bangsa ini.
Tokoh yang amat dicintai oleh umat Buddha di Lampung ini, juga sempat disemayamkan di Vihara Mahopadhi (Thay Hin Bio), Teluk Betung, Bandar Lampung. Di Lampung, dimana Beliau ingin disempurnakan di bumi ini, pertanda alam pun muncul turut menyertai keberangkatan orang besar ini. Sesaat setelah Gubernur Lampung, Oemarsoni, melepas jenazah keluar dari Vihara Thay Hin Bio untuk diberangkatkan menuju krematorium, langit yang cerah itu menjadi gelap sesaat. Kemudian tumpahlah air hujan rintik-rintik dari atas, namun sesaat kemudian langit kembali cerah. Air hujan yang turun rintik-rintik itu seakan-akan percikan air keberkahan oleh para dewa di atas sana.
“Raja telah mati, hiduplah sang raja,” demikian ucapan terkenal yang sering kita dengar. Bhikkhu Ashin telah parinirvana, tetapi sesungguhnya Beliau tetap hidup terus berada dan terus berada di antara hati kita semua. Abu jenazahNya yang disemayamkan di Pagoda Vihara Sakyawanaram, Pacet, pada tanggal 5 Juni 2002 akan selalu dapat kita kunjungi. Di sanalah kita selalu dapat mengenang keberadaan sosok manusia besar ini, putra Indonesia yang telah diusulkan oleh Menteri Agama untuk menerima bintang Maha Putera. Dan fotoNya yang khas berjubah kuning dan wajahnya yang cerah berlatar belakang gunung Gede akan selalu menghiasi ruangan setiap rumah Umat Buddha di Indonesia, cetiya-cetiya, dan vihara-vihara.
Sebagaimana masa kehidupanNya yang separuh dihabiskan tinggal di vihara-vihara, maka masa ke-Bhikkhuan Bhikkhu Ashin yang panjang itu, selama lebih separuh hidupNya (48 tahun) akan selalu memberi semangat bagi para anggota Sangha saat ini. Bahwa kehidupan suci itu memang pantas dijalankan, dipertahankan, diperjuangkan. Sebagaimana dengan kebenaran yang harus diungkapkan walau itu sepahit apapun, maka jalan kesucian itu tetap harus ditempuh, walau halangan dan rintangan, cobaan datang menghadang.
Dan ketika asap putih itu muncul dari cerobong atas krematorium, membumbung tinggi ke atas, terus membumbung tinggi di antara hijaunya perbukitan Lempasing, maka dari Pantai Lempasing dengan air lautnya yang berwarna biru, berombak perlahan, asap putih yang membawa kesucian dan kemurnian hati dan tekad Maha Sesepuh itu semakin tampak terus membumbung tinggi, keluar dari perbukitan, melintasi bumi, melintasi awan-awan hitam dan alam-alam dewa, menuju keketinggian langit. Dan sesaat yang tampak tinggal terlihat asap putih menyatu dengan kekosongan cakrawala dan kepenuhan samudera. Selamat menempuh kesempurnaan Bhante! (Jo Priastana)
|