Skip to content
  • bodhidharma
  • bodhidharma
  • bodhidharma
  • bodhidharma
  • bodhidharma
  • bodhidharma
  • bodhidharma
  • bodhidharma
  • bodhidharma
  • bodhidharma
  • bodhidharma
  • bodhidharma
You are here: Home Dharma Siapakah Diri Ini?
Siapakah Diri Ini?

Saat menghadiri sebuah upacara pembakaran mayat, saya menjadi tertegun melihat sanak famili yang menangis dengan pilu melepas kepergian salah seorang keluarga. Kematian memang merupakan sebuah peristiwa yang tidak diinginkan, tetapi mengapa setelah lewat beberapa bulan, isak tangis tersebut sudah tidak ada lagi. Rasa kehilangan atas kepergian keluarga tidak lagi melekat?

Saat menghadiri pesta kelahiran seorang anak, saya  kembali tertegun. Begitu banyak orang yang bersuka cita, tertawa riang,  menyambut kedatangan seorang anak manusia di bumi ini, seakan-akan kedatangannya merupakan hal yang terbaik yang selalu dinantikan. Tapi setelah melewati beberapa bulan, derai tawa sudah menghilang. Semuanya berjalan seperti normal kembali.

Jadi apa makna dari isak tangis dan derai tawa yang ada? Kenapa kematian selalu dihiasai dengan isak tangis, dan kelahiran disertai hawa kegembiraan? Apakah itu hanyalah sebuah panggung sandiwara kehidupan? Apakah kondisi tersebut ada karena memang seharusnya ada?

Saat saya menemukan sebuah kalimat di sebuah kalender saku yang diterbitkan oleh salah satu pusdiklat, saya kembali tertegun :  

“Mempelajari agama Buddha berarti mempelajari dirimu sendiri. Mempelajari dirimu adalah melupakan dirimu. Dan melupakan dirimu berarti memahami dirimu sebagai segala sesuatu.”
Dogen

 
Jika kita harus melupakan siapa diri ini? Lalu untuk apa ada kelahiran? Kenapa kita harus melupakan diri sendiri, untuk apa kita belajar Buddhadharma? Apakah dengan belajar Buddhadharma kita harus melupakan diri sendiri? Begitu sulitkah untuk belajar Buddhadharma sehingga kita harus melupakan diri kita sendiri?  

Tapi ngomong-ngomong siapa sih sebenarnya diri ini? Sehingga untuk melupakan diri seakan-akan merupakan sesuatu yang tidak boleh dilakukan? Apa yang harus dipertahankan dari diri ini? Apakah dengan mempertahankan harga diri akan terus membuat kita menjadi berarti? Apakah keberartian akan diri ini yang terus kita kejar?

Siapa diri ini? Seorang dokter? Apakah gelar dokter itu akan selalu dibawa kemanapun ia pergi? Apa yang dapat dilakukan untuk dirinya sendiri atas gelar tersebut? Menjadi sombongkah? Sehingga melakukan malpraktik yang menyebabkan hilangnya nyawa manusia bukan merupakan kesalahan fatal melainkan menjadi hal yang biasa? Apakah dengan menjadi dokter nyawa manusia menjadi tidak berarti? Itukah yang menjadi  kebanggaan menjadi seorang dokter?

Siapa diri ini? Seorang pengacara? Apakah dengan baju pengacara yang dikenakan bisa membuat dalih-dalih. Dengan dalih yang dibuatnya  membuat hakim menjadi percaya bahwa orang berpegang teguh pada kejujuran dan kebenaran padahal sebenarnya menutupi kesalahan. Apakah karena mata pencariannya sebagai pengacara dia boleh mengabaikan kebenaran? Apakah dengan demikian kepuasan batinnya telah dipenuhi?

Siapa diri ini? Seorang pembabar Dharma? Apakah dengan memberikan Dharma kepada khalayak banyak merupakan keberhasilan hidupnya? Sedangkan tindak tanduknya dan sikap yang ditunjukkan ke masyarakat tidak sesuai dengan apa yang diucapkan dan apa yang telah dia wartakan ke masyarakat. Apakah memang itu adalah tujuan hidupnya?  

Siapa diri ini? Hakekatnya isi diri ini hanyalah terdiri dari kerangka tulang-tulang yang terangkai dengan baik, sekumpulan darah yang akan mengering, dan setumpukan daging yang suatu saat siap membusuk. Setiap manusia memiliki unsur tersebut dan akan mengalami semuanya itu. Semua gelar dan kebanggaan serta kesombongan akan ikut hilang bersamaan dengan lenyapnya unsur tersebut. Jika demikian, apa yang harus ditonjolkan dari diri ini?  

Masih terlintas oleh saya lagu Anatta yang diajarkan sewaktu masih sekolah, lagu yang menggugah saya untuk mencari tahu apa itu Buddhadharma, lagu yang sering membuat saya sering bertanya-tanya tentang makna sesuatu tanpa inti.  

Anatta itulah sesuatu tanpa aku serta tanpa inti, dalam kesunyataan akhir tiada makhluk jiwapun pribadi. Tiada sesuatu kesatuan benda yang disebut diri. Nan ditinggal kekal s’panjang masa, namum berubah selalu nan abadi.

Hanya batin dan materi tiada suatu lainnya, bukan makhluk bukan jiwa bukan suatu pribadi. Yang disebut manusia, hanya suatu hayal, kosong belaka tanpa inti. Bagi yang melihat kebenaran sejati serta sadar diri, baginya lenyaplah Avijja Roda Samsara dapat diatasi.

Jika memang manusia hanya sebuah bentuk yang tidak kekal, berubah tanpa henti serta pada akhirnya tidak ada, untuk apa dalam kehidupan ini kita mengejar nama, kesombongan, kekayaan yang delusi?

Dalam Buddhadharma kita mengetahui, bahwa kita tidak hanya hidup di kehidupan ini saja, jika kita hanya mengejar hal-hal yang delusi, tanpa memperdulikan karma buruk yang timbul karena perbuatan tersebut, apa jadinya nanti dikehidupan kita nanti?

Pada perayaan ulang tahun seorang maha guru yang saya ikuti, ada seorang bijak yang mengatakan kepada saya, bahwa dalam menjalani hidup ini kita harus dapat mendengar dengan baik, membersihkan diri dengan baik, dan dengan sendirinya kita akan menjadi teguh dan mantap. Kata-kata yang mudah diucapkan tetapi sulit dalam menjalaninya karena itu memerlukan waktu dan latihan diri yang benar.  

Tapi bagaimana sih cara membersihkan diri yang baik itu?  Langkah yang harus ditempuh adalah dengan pelatihan diri. Pelatihan diri disini bukan hanya semata-mata melakukan meditasi selama bertahun-tahun atau melafalkan nama Buddha sampai beribu-ribu kali. Tetapi kita harus melakukan mencari kelemahan dan kesalahan diri sendiri, mengevaluasi kelemahan diri sendiri dan kesalahan, dan merubah kelemahan dan kesalahan tersebut. Itulah pelatihan yang sebenarnya.

Kita harus berjuang menjaga kesucian pikiran, perkataan, dan perbuatan, karena semua itu akan menolong menyucikan karma, hidup bukan untuk saat ini saja, kita masih harus melanjutkan hidup di kehidupan akan datang, penyucian karma diperlukan untuk menolong untuk memperbaiki kehidupan kita selanjutnya sampai akhirnya menuju ke alam pembebasan.

Untuk mencapai kesucian pikiran, tentu saja kita harus berani keluar dari keterikatan kepada kehidupan duniawi. Jika kita tidak mampu melepaskan kehidupan duniawi, mampukan kita dapat melakukan pelatihan diri? Dapatkah kita menanggalkan egoisme dan kesombongan kita?

Bila kita masih terpaku atau terpesona pada gemerlapnya kehidupan duniawi, dapatkah kita dengan jelas dan jernih dalam melihat kenyataan yang ada? Bisakah kita melupakan kepentingan diri kita untuk dapat melihat keadaanya yang sebenarnya?

Untuk itu,  siapkah kita melupakan diri kita dan meninggalkan segala yang mungkin masih menjadi dambaan kita dalam meraih dan mencicipi kesuskesan duniawi? Tentu saja pertanyaan ini bukanlah todongan atau paksanaan, karena memerlukan jawaban yang sejujurnya, tidak  terburu-buru.

Jawaban itu hanya di dapat setelah kita telah benar-benar mengadakan perenungan hakekat diri ini dalam keadaan yang setenang-tenangnya, dari hati yang hening dan bening, dari kejujuran menatap kehidupan dan keadaan diri yang sedalam-dalamanya dan sepenuhnya.  (ls)
 
 

 

Siapa yang Online

We have 3 guests online

Dharma Hari Ini

Jika Anda menderita dan membuat orang yang Anda cintai menderita, tidak ada yang dapat membenarkan keinginan Anda.  (Thich Nhat Hanh)

 

SocialTwist Tell-a-Friend