Bodhidharma

Dharma Hari Ini

Janganlah melekat pada apa yang dicintai
atau yang tidak dicintai.
Tidak bertemu dengan mereka yang dicintai
dan bertemu dengan mereka yang tidak dicintai,
keduanya merupakan penderitaan.
You are here: Home
  • narrow screen
  • wide screen
Kwan Im Se Jit Pusdiklat Buddhis Bodhidharma Jakarta
Dalam rangka perayaan Hari Avalokitasvara Bodhisattva Mencapai Penerangan Sempurna (Kwan Im Se Jit), Pusdiklat Buddhis Bodhidharma Jakarta mengadakan beberapa rangkaian kegiatan. Kebaktian pembacaan Sad Dharma Pundharika Sutra (Pu Men Bin) diadakan Kamis, 29 Juli 2010 pukul 19.00 WIB yang diikuti para umat Pusdiklat Buddhis Bodhidharma Jakarta.

Minggu, 1 Agustus 2010 kegiatan dimulai dengan pembacaan sutra dan mantra untuk Lele yang akan dilepas ke alam terbuka (Fang Sen) pada pukul 09.00 WIB yang dipimpin oleh Bhiksuni Bhadra Carya (Suhu Xian Xing). Setelah didoakan dan diperciki air berkah, sekitar 700 ekor Lele dilepas di Sungai Cisadane, Tangerang.
Read more...
 
PARAMITAYANA
Kamulan bhumisambhara, diperkirakan sebagai nama Borobudur pada masa itu berdasar atas penemuan sebuah prasasti di daerah Magelang. Di anggap sebagai pelambang dari sepuluh tingkat (bhumi) yang harus dilewati oleh Bodhisattva dalam usahanya mencapai Kebuddhaan. Jalan kebuddhaan ini diawali dengan memupuk  “kebajikan” (punya Sambhara) dan “pengetahuan” (jnana) melalui pelaksanaan ajaran Mahayana.
Read more...
 
Manusia dalam Buddhadharma
Manusia adalah mahkluk yang diberkahi dengan pikiran dan kesadarannya yang membedakan dari makhluk -makhluk lainnya, dan yang menyebabkan mendapat sebutan sebagai makhluk yang luhur. Keluruhan manusia ini yang tercemin bahwa dia selalu berusaha membawa dirinya mencapai nilai-nilainya yang luhur itu.

Manusia memiliki martabat yang luhur, karena mampu mengembangkan nilai-nilai luhur yang mencerminkan kemampuan dari kebebasanya untuk mengatasi segala kondisi, persyaratan, dukkha atau penderitaan yang menandai eksistensi hidupnya.

Fakta adanya penderitaan menunjukkan keluhuran martabat manusia. Karena keluhuran manusia tersebut merupakan momentum kemampuannya dalam mengatasi penderitaannya, sebagaimana yang dicerminkan manusia Sidharta yang akhirnya menjadi Buddha.
Read more...